Sebuah komentar terhadap artikel Gus...Semoga tidaklah terdengar baru ataupun aneh bagi bangsa Indonesia yang sudah demokratis. Kurang lebih kritikan sekaligs kekecewaan terhadap artikel Blog I-I tersebut sbb:
"inget pak agama bukan buatan manusia,islam terpecah belah dan kacau karena orang2 macam gusdur dan mungkin juga anda yang memahami agama dengan pikiran sendiri...beda kepala,beda pemahaman..."
Ada beberapa hal yang sangat penting yang perlu saya klarifikasi di sini:
Pertama, saya setuju bahwa agama bukan buatan manusia. Namun sesungguhnya bila Tuhan menghendaki kita akan hanya memiliki satu agama, tetapi mengapa terdapat begitu banyak keyakinan dan agama di dunia ini? Bahkan dalam satu agamapun terdapat begitu banyak cabang/aliran. Bagi saya urusan agama adalah sesuatu yang sangat intim di dalam bathin kita dalam hubungan kita dengan Tuhan, setelah itu menjadi mantap akan memancar dalam perilaku yang terjaga dari perbuatan yang jahat atau keji di dunia ini, bahkan mewujud menjadi penerang bagi orang lain atau masyarakat. Namun hal itu tidak mudah bukan? Karena mayoritas umat manusia terjebak dalam teks hukum agama, baru berada pada level permukaan dalam memahami hakikat beragama serta terlalu khawatir dengan pengaruh dari luar sehingga kita lebih senang membangun tembok pemisah sesama umat manusia, serta membangun komunitas ekslusif yang memiliki keyakinan yang sama. Sementara cara kita melihat keyakinan yang berbeda cenderung bermusuhan. Bagaimana watak rahmat untuk alam semesta dapat mewujud dalam perilaku kita apabila sikap bermusuhan dominan?
Setiap manusia memahami agama bukan hanya bersandar pada teks kitab suci semata, melainkan juga diwarnai oleh perjalanan hidup yang berisi pengalaman dalam interaksi dengan Tuhan, manusia, alam semesta, dll berbagai hal di sekeliling kita. Setiap pagi kita bangun dari tidur, adalah momen-momen yang selalu baru dan waktu kita habis tidak dapat diulangi dan tercatat sebagai perbuatan, demikian terus dalam suasana yang selalu baru dalam perputaran dimensi waktu sehingga akhirnya kita kembali kepada Yang Maha Kuasa.
Hal ini bagi saya bukan suatu interpretasi bebas, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah dan hukum agama. Seluruh agama di dunia ini mengalami perpecahan sebagai akibat dari tingkat pemahaman yang berbeda-beda, namun kita tidak perlu melangkah ke dalam sikap bermusuhan bukan? Atas alasan apa kita berhak menghakimi orang lain karena keimanan yang berbeda? Apakah kita berhak mengambil posisi Tuhan dalam menilai sesama manusia?
Hal ini juga bukan suatu sikap untuk semata-mata bersandar pada kekuatan manusiawi berupa pemahaman akan dan pikiran. Melainkan juga perlu ada bimbingan dari kebijakan yang lahir begitu saja di dalam bathin setiap manusia yang mau berusaha untuk mencapainya.
Kedua, konteks artikel saya tentang Gus Dur lebih banyak sebagai penghormatan simbolis karena saya tidak dapat menemuinya secara langsung sebelum beliau meninggalkan alam yang fana ini. Selain itu, konteksnya adalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bukan dalam konteks kehidupan beragama Islam.
Anda menyebut generasi sahabat Rasulullah sebagai masa yang membuat umat Islam baik, tetapi apakah anda pernah membaca kisah-kisah sejarah periode sahabat Rasul? Mengapa Umar RA, Ustman RA, Ali RA, semuanya dibunuh pada akhir masa pemerintahannya? Jawabannya adalah kepentingan Politik Kekuasaan dan perbedaan pendapat baik di dalam umat Islam maupun sebagai akibat adanya penyusupan dari musuh-musuh Islam di masa itu. Akan lebih tepat apabila kita secara jujur mengakui bahwa periode sahabat Rasul adalah periode perjuangan awal paska Rasul untuk memantapkan keberlanjutan agama Islam yang kemudian berkembang ke seluruh dunia.
Ingat, dalam konteks beragama tidak ada keraguan bahwa umat terdahulu memiliki kualitas beragama yang patut ditauladani, namun dalam urusan berbagangsa dan bernegara pernah terjadi bencana besar bukan? Apakah umat Islam Indonesia akan mengulangi sejarah dengan terus-menerus bermusuhan sebagai akibat dari perbedaan?
Saya tidak menganjurkan untuk memelihara perbedaan karena hal itu ada sebagai sebuah realita dari umat manusia, tetapi saya juga tidak menganjurkan dilakukannya pemaksaan untuk penyeragaman keyakinan karena hal ini sama saja dengan memmbangun bom waktu permusuhan yang semakin dalam. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita perlu memproses sebuah cara pandang dalam identifikasi diri kita, masyarakat kita, bangsa kita dalam identitas Indonesia, namun hal itu tidak menghilangkan ciri atau identitas khusus dalam beragama, bersuku bangsa dan berkeyakinan. Problem besar dari masyarakat komunal seperti di Indonesia, adalah hampir selalu muncul ide di benak kita bahwa yang terbaik adalah keseragaman, padahal hal itu akan menghabiskan waktu kita untuk kemajuan bangsa Indonesia. Untuk kemajuan bangsa, yang diperlukan adalah saling menghormati, saling percaya dan bersatu dalam mewujudkan cita-cita bersama yaitu bangsa Indonesia yang maju. Apakah hal itu bertentangan dengan keyakinan beragama kita? Silahkan anda pikirkan dengan juga mempertimbangkan bahwa jutaan saudara kita masih hidup dalam kemiskinan, bukankah agama mengajarkan untuk berbuat baik, menyantuni anak yatim piatu, menolong orang miskin. Pernahkah kita berpikir untuk menolong saudara kita yang miskin?
Semoga hal ini dapat menjawab kritikan rekan-rekan Blog I-I yang memiliki pertanyaan dan kritikan yang serupa.
"inget pak agama bukan buatan manusia,islam terpecah belah dan kacau karena orang2 macam gusdur dan mungkin juga anda yang memahami agama dengan pikiran sendiri...beda kepala,beda pemahaman..."
Ada beberapa hal yang sangat penting yang perlu saya klarifikasi di sini:
Pertama, saya setuju bahwa agama bukan buatan manusia. Namun sesungguhnya bila Tuhan menghendaki kita akan hanya memiliki satu agama, tetapi mengapa terdapat begitu banyak keyakinan dan agama di dunia ini? Bahkan dalam satu agamapun terdapat begitu banyak cabang/aliran. Bagi saya urusan agama adalah sesuatu yang sangat intim di dalam bathin kita dalam hubungan kita dengan Tuhan, setelah itu menjadi mantap akan memancar dalam perilaku yang terjaga dari perbuatan yang jahat atau keji di dunia ini, bahkan mewujud menjadi penerang bagi orang lain atau masyarakat. Namun hal itu tidak mudah bukan? Karena mayoritas umat manusia terjebak dalam teks hukum agama, baru berada pada level permukaan dalam memahami hakikat beragama serta terlalu khawatir dengan pengaruh dari luar sehingga kita lebih senang membangun tembok pemisah sesama umat manusia, serta membangun komunitas ekslusif yang memiliki keyakinan yang sama. Sementara cara kita melihat keyakinan yang berbeda cenderung bermusuhan. Bagaimana watak rahmat untuk alam semesta dapat mewujud dalam perilaku kita apabila sikap bermusuhan dominan?
Setiap manusia memahami agama bukan hanya bersandar pada teks kitab suci semata, melainkan juga diwarnai oleh perjalanan hidup yang berisi pengalaman dalam interaksi dengan Tuhan, manusia, alam semesta, dll berbagai hal di sekeliling kita. Setiap pagi kita bangun dari tidur, adalah momen-momen yang selalu baru dan waktu kita habis tidak dapat diulangi dan tercatat sebagai perbuatan, demikian terus dalam suasana yang selalu baru dalam perputaran dimensi waktu sehingga akhirnya kita kembali kepada Yang Maha Kuasa.
Hal ini bagi saya bukan suatu interpretasi bebas, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah dan hukum agama. Seluruh agama di dunia ini mengalami perpecahan sebagai akibat dari tingkat pemahaman yang berbeda-beda, namun kita tidak perlu melangkah ke dalam sikap bermusuhan bukan? Atas alasan apa kita berhak menghakimi orang lain karena keimanan yang berbeda? Apakah kita berhak mengambil posisi Tuhan dalam menilai sesama manusia?
Hal ini juga bukan suatu sikap untuk semata-mata bersandar pada kekuatan manusiawi berupa pemahaman akan dan pikiran. Melainkan juga perlu ada bimbingan dari kebijakan yang lahir begitu saja di dalam bathin setiap manusia yang mau berusaha untuk mencapainya.
Kedua, konteks artikel saya tentang Gus Dur lebih banyak sebagai penghormatan simbolis karena saya tidak dapat menemuinya secara langsung sebelum beliau meninggalkan alam yang fana ini. Selain itu, konteksnya adalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bukan dalam konteks kehidupan beragama Islam.
Anda menyebut generasi sahabat Rasulullah sebagai masa yang membuat umat Islam baik, tetapi apakah anda pernah membaca kisah-kisah sejarah periode sahabat Rasul? Mengapa Umar RA, Ustman RA, Ali RA, semuanya dibunuh pada akhir masa pemerintahannya? Jawabannya adalah kepentingan Politik Kekuasaan dan perbedaan pendapat baik di dalam umat Islam maupun sebagai akibat adanya penyusupan dari musuh-musuh Islam di masa itu. Akan lebih tepat apabila kita secara jujur mengakui bahwa periode sahabat Rasul adalah periode perjuangan awal paska Rasul untuk memantapkan keberlanjutan agama Islam yang kemudian berkembang ke seluruh dunia.
Ingat, dalam konteks beragama tidak ada keraguan bahwa umat terdahulu memiliki kualitas beragama yang patut ditauladani, namun dalam urusan berbagangsa dan bernegara pernah terjadi bencana besar bukan? Apakah umat Islam Indonesia akan mengulangi sejarah dengan terus-menerus bermusuhan sebagai akibat dari perbedaan?
Saya tidak menganjurkan untuk memelihara perbedaan karena hal itu ada sebagai sebuah realita dari umat manusia, tetapi saya juga tidak menganjurkan dilakukannya pemaksaan untuk penyeragaman keyakinan karena hal ini sama saja dengan memmbangun bom waktu permusuhan yang semakin dalam. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita perlu memproses sebuah cara pandang dalam identifikasi diri kita, masyarakat kita, bangsa kita dalam identitas Indonesia, namun hal itu tidak menghilangkan ciri atau identitas khusus dalam beragama, bersuku bangsa dan berkeyakinan. Problem besar dari masyarakat komunal seperti di Indonesia, adalah hampir selalu muncul ide di benak kita bahwa yang terbaik adalah keseragaman, padahal hal itu akan menghabiskan waktu kita untuk kemajuan bangsa Indonesia. Untuk kemajuan bangsa, yang diperlukan adalah saling menghormati, saling percaya dan bersatu dalam mewujudkan cita-cita bersama yaitu bangsa Indonesia yang maju. Apakah hal itu bertentangan dengan keyakinan beragama kita? Silahkan anda pikirkan dengan juga mempertimbangkan bahwa jutaan saudara kita masih hidup dalam kemiskinan, bukankah agama mengajarkan untuk berbuat baik, menyantuni anak yatim piatu, menolong orang miskin. Pernahkah kita berpikir untuk menolong saudara kita yang miskin?
Semoga hal ini dapat menjawab kritikan rekan-rekan Blog I-I yang memiliki pertanyaan dan kritikan yang serupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar