Kamis, 08 April 2010

Tulisan kali ini benar-benar isu yang belum saya cek kebenarannya.

Ada pihak tertentu yang sedang menguji thesis benturan Islam dengan Barat. Sebut saja pihak tersebut the wing of excellence karena mereka begitu yakinnya dengan kapabilitas intelektual yang jauh diatas rata-rata.

Mereka tidak terkait langsung dengan gerakan agama manapun, termasuk Zionis Yahudi yang seringkali dianggap sebagai otak dibalik semua konspirasi di dunia ini.

Pemuatan kartun Nabi Muhammad di sejumlah media massa Eropa bukan tanpa perhitungan akan reaksi yang timbul dari dunia Islam. Hal ini dengan cerdiknya telah diperhitungkan oleh kalangan the wing of excellence. Pihak-pihak yang terkait langsung dengan proses pemuatan kartun tersebut telah disusupi oleh sebuah grandeur ide untuk membongkar kesakralan sosok Nabi Muhammad yang merupakan satu-satunya Utusan Tuhan yang belum dicemari oleh kekonyolan canda tawa manusiawi yang pada dasarnya wajar secara psikologis, ingat manusia itu bukanlah malaikat yang patuh seutuhnya pada Yang Maha Kuasa.

Pembongkaran kesakralan Nabi Muhammad tersebut sekaligus sebagai studi kasus terhadap respon seluruh umat Islam dunia yang menurut daftar analisa kelompok tersebut akan pecah menjadi 9 kelompok besar, yaitu:
  1. Reaksi paling keras dengan aksi kekerasan oleh kelompok jihad
  2. Reaksi agak keras dengan aksi demonstrasi dengan melakukan penghinaan terhadap simbol negara yang merupakan balasan. Kelompok yang akan melakukan aksi ini bersifat campuran.
  3. Reaksi keras dengan dengan komentar intelektual yang akan muncul dari elit politik negara berpenduduk muslim.
  4. Reaksi yang justru menyudutkan Islam garis keras, karena mereka akan kelihatan bodoh dan kurang dewasa.
  5. Reaksi yang merupakan introspeksi ke dalam kelompok Islam atas cara mereka memahami sebuah wacana kontroversial.
  6. Reaksi acuh tak acuh yang menganggap Nabi dan Tuhan tidak perlu dibela.
  7. Reaksi khawatir bahwa citra Islam semakin buruk dengan maraknya respon-respon kekerasan atas sebuah fenomena karikatur (non-kekerasan).
  8. Reaksi yang membongkar ketidakmampuan pimpinan umat Islam memimpin "respon-respon spontan Islami" umat Islam atas sebuah fenomena yang kontroversial.
  9. Reaksi paling lemah, bahkan ikut tertawa ketika melihat Nabinya digambarkan secara tidak benar (fitnah) dan tidak sopan oleh pihak lain karena menganggap itu sebagai hal yang wajar dalam pola berpikir liberal.

Kesembilan reaksi yang diperkirakan tersebut mungkin telah bertambah lagi dengan kategori lain. Namun ada satu kesatuan analisa yang dipersiapkan, yaitu untuk melihat persatuan umat Islam dunia dalam bersikap, yang ternyata masih solid dalam level yang berbeda-beda.

Berikutnya adalah menjerumuskan aliran keras untuk terus mengobarkan kekerasan, sehingga pencitraan secara kontinu tentang Islam sebagai agama kekerasan menjadi wajar di benak manusia sedunia. Diharapkan aliran keras ini semakin berkobar dan mampu menyeret aliran yang lebih menggunakan intelektual dan kesabaran serta santun untuk merasakan kobaran emosi anti barat (secara simbolis tergambar jelas dengan demonstrasi yang diarahkan pada sejumlah negara barat). Misalnya meskipun Amerika Serikat sebagai negara tidak terlibat dalam kasus kartun, tetap ikut kena getah demonstrasi.

Konspirasi demi konspirasi untuk mengobarkan "kebencian" dan prasangka tersebut tidak akan berhenti sesuai dengan ramalan kitab suci yang diyakini umat Islam.

Hal ini hanyalah langkah antara untuk melanggengkan "permusuhan" batiniah yang sebenarnya tidak dilandasi oleh kebencian terhadap ajaran agamanya, tetapi "iri-benci" antar manusia yang berkeyakinan beda.

Demikian sedikit bocoran dari sumber yang belum bisa dipertanggungjawabkan.

Semoga rakyat Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia bisa memperbaiki respon-respon terhadap isu global secara lebih cerdas dan simpatik.
-----


Krisis yang dipicu oleh sebuah karikatur tokoh yang paling dihormati umat Islam memang benar-benar luar biasa. Gelombang protes yang terjadi didunia Islam bukan tanpa motor penggerak, perkiraan adanya 9 kelompok yang bereaksi dalam tingkatan yang berbeda berdasarkan pada pendekatan psikologi massa yang berarti mengabaikan faktor mobilisasi politik dari kelompok Islam. Sementara itu, disamping melakukan kalkulasi sejauh mana solidaritas umat Islam sedunia, sesungguhnyalah the wing of excellence sedang menunggu meruncingnya perseteruan lama Sunni bersama kelompok moderat-Syi'ah bersama kelompok jihadis agar lebih kelihatan dalam skala global. Sunni disini berarti Saudi Arabia dan Syi'ah adalah Iran. Sementara kelompok moderat adalah mereka yang bereaksi "lemah" atas isu kartun sedangkan jihadis adalah yang bereaksi "keras".

Ada sedikit kemiripan dengan analisa saudara Christianto Wibisono tentang masalah kartun (kebetulan ditolak oleh Suara Pembaruan) karena "takut" memicu gelombang baru di Indonesia. Boleh saya menduga saudara Chris juga tahu tentang the wing of excellence atau minimal pernah membaca atau terpengaruh dengan diskusi orang-orang CIA, karena tulisannya ada kemiripan dengan produk CIA yang lugas dalam dan komprehensif dalam mengupas sebuah persoalan. Mungkin juga tidak, atau karena faktor kebetulan. Kebetulan saudara Chris ada di Washington (kota yang merupakan jantung pemerintahan) dan bukan di New York sebagai pusat bisnis.

Solidaritas EU yang tetap membela Denmark sebagai bagian integral Eropa tentu saja sudah diperhitungkan, terlebih dengan solidaritas kebebasan persnya. Tetapi adakah orang Eropa yang berani memainkan karikatur holocaoust pembantaian Yahudi oleh Jerman? bila memang mereka benar-benar bebas?

Thesis benturan peradaban memang terasa konyol bila kita berpikir dalam kerangka perdamaian dunia dan tata dunia baru. Tetapi benturan peradaban itu bila tidak aktual maka sifatnya potensial dan disadari dalam benak umat manusia yang tidak pernah saling mempercayai sesama. Manusia yang senantiasa dihantui rasa terancam oleh manusia lain, manusia yang senang membohongi diri sendiri demi kosmetik pergaulan internasional. Sementara hakikatnya permusuhan itu demikian dalamnya. Secara akademis bisa jadi thesis benturan peradaban bisa dibantah tetapi tidak secara keseluruhan, ada bagian-bagian yang terlanjur masuk ke dalam ruang otak kita dan bergema menjadi salah satu alternatif sudut pandang setiap kali timbul perselisihan yang disebabkan oleh perbedaan manusia yang satu dengan yang lain.

Pengetahuan manusia akan dirinya sudah sedemikian majunya, demikian diklaim oleh the wing of excellence dan hal ini berkat penelitian secara terus-menerus tentang neuro-science yang tidak mengabaikan faktor filosofis, emosi dan penyimpangan manusia. Dengan demikian, permainan konflik ataupun pencitraan manusia yang satu dengan yang lain demikian mudahnya dikemas di era globalisasi, sementara mayoritas umat manusia hanya terbengong-bengong dan bertanya-tanya....ada apa sih?

Mudah-mudahan Intelijen Indonesia yang telah memiliki jaringan komunikasi dengan intelijen di Timur Tengah juga melihat duduk persoalan secara jernih sehingga mampu memberikan masukkan yang tepat buat pemerintah RI. Sejauh ini saya lihat cukup baik...tidak terlihat keputusan blunder pemerintah terkait dengan isu-isu di dunia Islam.

Akhir kata, dan ini pendapat pribadi saya.... kesombongan the wing of excellence hanya akan runtuh bila menghadapi manusia super. Yaitu mereka yang masih memiliki nurani dan kejujuran serta senantiasa membersihkan diri dan paham betul makna beragama dan beribadah kepada Yang Maha Pencipta, dimana kepintaran pengetahuan manusia tidak ada artinya dihadapan keheningan jiwa dalam menghadap Sang Pencipta. Mudah-mudahan manusia super semacam ini semakin banyak di bumi Nusantara, sehingga suatu masa nanti umat manusia akan belajar ke Indonesia.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar