Krisis finansial global telah merontokkan raksasa-raksasa di industri keuangan dunia. Sepuluh tahun lalu, 11 dari 20 besar perusahaan keuangan dunia berinduk di Amerika Serikat. Posisi teratas diduduki oleh Citigroup dan di urutan kedua adalah Bank of America.
Inggris menempatkan 4 peruhaan, sedangkan Swiss dan Jepang masing-masing dua perusahaan. Satu yang tersisa berasal dari Spanyol.
League table by market value
Sepuluh tahun kemudian, per 17 Maret 2009, peta kekuatan mengalami jungkir-balik. AS hanya menyisakan 4 perusahaan. Citigroup lenyap dari 20 besar, terlempar ke urutan 46. Chase bisa bertahan karena merger dengan JPMorgan menjadi JPMorgan Chase.
Inggris tinggal menyisakan satu perusahaan, juga Jepang. Swiss tetap bertahan dengan dua perusahaan, tetapi posisi keduanya melorot. Berbeda dengan Swiis, satu-satunya wakil Spanyol menikmati kenaikan peringkat sangat mencolok, dari urutan ke-18 menjadi urutan ke-8.
Siapa saja raksasa baru yang menyeruak? Ternyata bank-bank dari China. Tak tanggung-tanggung, posisi tiga besar dikuasai oleh bank dari negeri Tirai Bambu ini. Dua bank China lainnya berada di urutan 12 dan 17. Sehingga, China menempatkan 5 bank di antara 20 besar perusahaan keuangan dunia.
Para pendatang baru dari China ini memiliki dua ciri. Pertama, semuanya berupa bank komersial, bukan bank investasi atau campuran bank investasi-bank komersial seperti kebanyakan raksasa lembaga keuangan AS. Kedua, hampir semua bank terpandang China adalah bank khusus atau bank yang berspesialisasi di bidang atau industri tertentu. [Dulu kita memiliki bank-bank khusus, yakni: BDN, BBD, Bapindo, dan Mank Exim. Tapi semua telah dilebur jadi Bank Mandiri.]
Satu lagi bank dari negara Emerging Market yang masuk ke dalam kelompok elit 20 besar adalah Banco Itao dari Brazil.
Pendatang baru lainnya berasal dari Australia dan Kanada, masing-masing dua perusahaan.
Pergeseran yang sangat mencolok di industri keuangan dunia tersebut merupakan salah satu indikator saja dari telah berubahnya peta kekuatan ekonomi dunia.
Jangan mimpi bank-bank kita bisa masuk ke 20 besar dunia. Di tingkat Asia saja kita tak dihitung. Tapi tak apa, asal bank-bank kita bisa lebih berperan untuk memajukan perekonomian rakyat. Bukan seperti sekarang, bank-bank besar kita tak bergairah salurkan kredit. Bank terbesar, Bank Mandiri, hanya salurkan kredit sebesar Rp 174 triliun dari seluruh dana masyarakat yang dihimpunnya (Rp 289 triliun) atau dengan LDR (loan-to-deposit ratio) 60%. LDR Bank BNI juga masih relatif kecil, yaitu 69%. Bank BUMN yang cukup lumayan adalah BRI dengan LDR 78%. Bank besar dengan LDR terendah ialah BCA, 54%. Bank Danamon, yang notabene milik asing, ternyata memiliki LDR yang cukup tinggi, yaitu 76%.
Ke mana sisa dana masyarakat—yang tak disalurkan sebagai kredit—diparkir oleh bank-bank di Indonesia? Sebagian besar dalam bentuk SUN (Surat Utang Negara) dan SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Sekitar separuh SUN dibeli oleh perbankan. Kalau tidak kreatif begini, jangan mimpi jadi pemain global.
Quo vadis perbankan Indonesia.
Catatan: sumber tabel berasal dari ” The Fearsome become the Fallen,” Financial Times, March 23, 2009, p.5.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar