Begitu banyak metode atau cara untuk menyelesaikan sebuah permasalahan tetapi begitu sedikit skill/kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempraktekkan metode-metode tersebut. Keterjebakan kita dalam sebuah kerangka teori atau cara otak berpikir atas suatu masalah seringkali membuat kita lupa tentang pokok permasalahan yang dihadapi. Akibatnya tentu saja mendorong kita untuk mengambil langkah-langkah yang jauh penyelesaian pokok permasalahannya.
Sebuah cara sederhana adalah dengan mengurutkan secara terstruktur jawaban yang kita temukan atas sebuah persoalan. Pada bagian akhirnya kita mengkonfrontasikan jawaban akhir dengan persoalan awal.
Contoh kasus. Dengan pertanyaan pokok Bagaimana.
Masalah 1. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Otak Kita?
Jawaban 1. Belajar
Masalah 2. Bagaimana belajar yang efektif?
Jawaban 2. Membaca berbagai sumber dan Berdiskusi dengan para ahli
Masalah 3. Bagaimana memilih sumber bacaan?
Bagaimana mendapatkan pencerahan dari para ahli?
Jawaban 3. Studi ke perpustakaan
Mendengarkan pendapat para ahli dengan seksama dan menanyakan hanya hal-hal
yang benar-benar belum dimengerti
Bila kita berhenti sejenak, perhatikan apakah jawaban ketiga masih menjawab soal pertama.....mungkin jawabnya masih mungkin juga tidak. Karena pertanyaan pertama yang terlalu umum seharusnya bisa dipecah lagi, kemampuan otak yang mana?
Misalnya pertanyaan dilanjutkan/diperdalam dengan pertanyaan, sbb:
Masalah 1. Bagaimana meningkatkan kemampuan otak kita? (Keinginan general)
Masalah 2. Kemampuan otak yang mana? (Klasifikasi)
Masalah 3. Ada berapa banyak tipe kemampuan otak? (mencari sebaran horisontal)
Masalah 4. Ada berapa tingkatan kemampuan otak itu? (mencari informasi ttg level vertikal)
Masalah 5. Mengapa meningkatkan kemampuan otak? (mencari alasan)
dst...dst... masihkan pendalaman pertanyaan itu relevan dengan pertanyaan awal....
Singkat kata, anda akan takjub dengan permainan pertanyaan maupun permainan tanya jawab di otak kita. Contoh di atas tentu terlalu sederhana dan umum dan tidak berdasarkan pada penelitian empiris ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Tetapi disadari ataupun tidak, mekanisme cara berpikir manusia yg telah "terotomatisasi" menjadi bagian dari bawah sadar yang tidak lagi disadari, karena kita pada umumnya hanya terpaku pada tujuan-tujuan praktis, taktis ataupun strategis.
Pelajaran sederhana ini saya terima dalam bincang-bincang ringan di sebuah ruangan berlantai marmer coklat di mana miniatur pesawat model U2 dan A12 melayang tergantung pada langit-langit, somewhere in USA.
Sebuah cara sederhana adalah dengan mengurutkan secara terstruktur jawaban yang kita temukan atas sebuah persoalan. Pada bagian akhirnya kita mengkonfrontasikan jawaban akhir dengan persoalan awal.
Contoh kasus. Dengan pertanyaan pokok Bagaimana.
Masalah 1. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Otak Kita?
Jawaban 1. Belajar
Masalah 2. Bagaimana belajar yang efektif?
Jawaban 2. Membaca berbagai sumber dan Berdiskusi dengan para ahli
Masalah 3. Bagaimana memilih sumber bacaan?
Bagaimana mendapatkan pencerahan dari para ahli?
Jawaban 3. Studi ke perpustakaan
Mendengarkan pendapat para ahli dengan seksama dan menanyakan hanya hal-hal
yang benar-benar belum dimengerti
Bila kita berhenti sejenak, perhatikan apakah jawaban ketiga masih menjawab soal pertama.....mungkin jawabnya masih mungkin juga tidak. Karena pertanyaan pertama yang terlalu umum seharusnya bisa dipecah lagi, kemampuan otak yang mana?
Misalnya pertanyaan dilanjutkan/diperdalam dengan pertanyaan, sbb:
Masalah 1. Bagaimana meningkatkan kemampuan otak kita? (Keinginan general)
Masalah 2. Kemampuan otak yang mana? (Klasifikasi)
Masalah 3. Ada berapa banyak tipe kemampuan otak? (mencari sebaran horisontal)
Masalah 4. Ada berapa tingkatan kemampuan otak itu? (mencari informasi ttg level vertikal)
Masalah 5. Mengapa meningkatkan kemampuan otak? (mencari alasan)
dst...dst... masihkan pendalaman pertanyaan itu relevan dengan pertanyaan awal....
Singkat kata, anda akan takjub dengan permainan pertanyaan maupun permainan tanya jawab di otak kita. Contoh di atas tentu terlalu sederhana dan umum dan tidak berdasarkan pada penelitian empiris ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Tetapi disadari ataupun tidak, mekanisme cara berpikir manusia yg telah "terotomatisasi" menjadi bagian dari bawah sadar yang tidak lagi disadari, karena kita pada umumnya hanya terpaku pada tujuan-tujuan praktis, taktis ataupun strategis.
Pelajaran sederhana ini saya terima dalam bincang-bincang ringan di sebuah ruangan berlantai marmer coklat di mana miniatur pesawat model U2 dan A12 melayang tergantung pada langit-langit, somewhere in USA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar