Kamis, 08 April 2010

CIA Ada di Mana Mana, Fakta atau Imaginasi

Dalam sejumlah operasi penangkapan terhadap kelompok yang diduga sebagai teroris sering terdengar adanya keterlibatan CIA. Dalam polemik penangkapan Al Farouq di Bogor misalnya, ada dugaan-dugaan keterlibatan CIA, bahkan diduga Al Farouq yang konon "kabur" sebenarnya orangnya CIA. Dalam penangkapan/penculikan Hassan Mustapha Osama Nasr alias Abu Omar di Italia, lagi-lagi CIA disebut-sebut ikut aktif dalam aksi tersebut. Lucunya Washington Post menyebutkan pemerintah Italia merestui kegiatan CIA tersebut.

Inilah yang disebut dunia propaganda yang terus-terusan mencitrakan CIA sebagai organisasi intelijen yang mampu menjangkau seluruh dunia, mengawasi dan bahkan bisa membekuk siapapun yang bersikap anti Amerika. Bila kita bandingkan berita Washington Post, cerita penangkapan Al Farouq dengan film the spy game, kita akan sedikit melihat adanya benang merah propaganda unilateralisme Amerika sebagai adidaya tunggal di dunia. Dalam spy game yang dibintangi Brad Pitt tersebut kita bisa lihat China sebagai salah satu sasaran operasi CIA, dan tentunya dalam film tersebut CIA "mampu" mengatasi krisis atas terbongkarnya sebuah kegiatan mata-mata.

Propaganda antara kenyataan/fakta dan ilustrasi/imajinasi terus-terusan dihembuskan dalam rangka menjaga hegemoni Amerika. Sangat sulit untuk membantah propaganda yang dikeluarkan oleh Washington Post karena percampuran antara fakta dan rekayasa berita begitu halusnya.

Sejumlah tokoh Indonesia pernah berurusan dengan Washington Post dalam soal pemberitaan yang mencitrakan sifat negatif tertentu. Menurut informasi dari seorang rekan wartawan di Washington Post beberapa tahun silam. Pimpinan intelijen negara masa Megawati, Bung Hendropriyono hampir saja diberitakan sebagai tokoh di belakang gerakan radikal Islam alumni Afghanistan, khususnya yang terkait dengan Lasykar Jihad. Tetapi dalam konfirmasi dengan Bung Hendro, Washington Post malahan ditantang untuk melansir berita tersebut dan Bung Hendro menanti dengan santai....kenapa, karena itu bukan fakta melainkan imajinasi intelijen dan Bung Hendro bisa melipatgandakan kekayaannya dengan melakukan tuntutan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik atau fitnah. Akhirnya Washington Post membatalkan berita "imajinasi" tersebut.

Asik bukan mendengar cerita-cerita propaganda dan seluk beluknya. Untuk konfirmasi saya tidak bisa menyebutkan nara sumber di Washington Post. Tetapi bagi yang ada di Indonesia, silahkan tanyakan kepada Pak Hendropriyono, apakah saya berbohong atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar