Sistem informasi intelijen secara otomatis bertugas mencari dan menganalisis informasi tentang lingkungan sosial, politik, hukum, peraturan perundangan dan ekonomi dari satu atau lebih negara disamping juga tentang kesehatan dan prospek masa depan industri dimana perusahaan bersangkutan merupakan bagian didalamnya serta juga tentang pesaingnya.
Sistem informasi intelijen akan memberikan informasi perencanaan yang para manajer tidak menerima dari sumber lain.
Sumber informasi intelijen :
1.Lembaga pemerintah.
2.Asosiasi perdagangan industri
3.Perusahaan riset pasar swasta
4.Media massa
5.Kajian khusus yang dilakukan organisasi
Informasi yang diperoleh akan digunakan untuk memahami strategi pesaing, pergeseran halus dalam selera konsumen.
Unsur pokok dalam informasi intelijen :
1.Profil keperluan informasi dari manajer
2.Sistem penggalian informasi manajemen
3.Sistem pengkodean dan penyimpanan.
4.Sistem analisis data
5.Kajian khusus
6.Sistem pelaporan
7.Pedoman penghapusan data.
Kamis, 08 April 2010
Tentang Intelijen
Apakah definisi Intelijen?
Intelijen dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan langsung dari Intelligence (N) dalam bahasa Inggris yang berarti kemampuan berpikir/analisa manusia. Mudahnya kita lihat saja test IQ (Intelligence Quotient), itulah makna dasar dari Intelijen.
Intelijen atau Intelligence berarti juga seni mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi strategis yang diperlukan sebuah negara tentang negara "musuh". Dari definisi ini berkembang istilah counterintelligence yang merupakan lawan kata dari intelligence.
Intelijen juga merujuk pada organisasi yang melakukan seni pencarian, pengumpulan dan pengolahan informasi tersebut di atas. Dengan definisi ini intelijen juga mencakup orang-orang yang berada di dalam organisasi intelijen termasuk sistem operasi dan analisanya.
USA, Russia (sejak era Uni Soviet) adalah dua negara yang mengembangkan intelligence mengarah pada sebuah field science baru. Keberadaan sejumlah Akademi di Russia, bahkan Sekolah Tinggi sampai Graduate School di USA (bersepesialisasi di bidang intelijen) merupakan langkah-langkah gradual menuju penciptaan field science of intelligence.
Sementara di sebagian besar negara "besar" seperti Inggris, Perancis, dan China, Intelligence masih dianggap sebagai seni yang dirahasiakan dan hanya diajarkan pada calon-calon agen intelijen selama beberapa tahun.
Intelijen dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan langsung dari Intelligence (N) dalam bahasa Inggris yang berarti kemampuan berpikir/analisa manusia. Mudahnya kita lihat saja test IQ (Intelligence Quotient), itulah makna dasar dari Intelijen.
Intelijen atau Intelligence berarti juga seni mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi strategis yang diperlukan sebuah negara tentang negara "musuh". Dari definisi ini berkembang istilah counterintelligence yang merupakan lawan kata dari intelligence.
Intelijen juga merujuk pada organisasi yang melakukan seni pencarian, pengumpulan dan pengolahan informasi tersebut di atas. Dengan definisi ini intelijen juga mencakup orang-orang yang berada di dalam organisasi intelijen termasuk sistem operasi dan analisanya.
USA, Russia (sejak era Uni Soviet) adalah dua negara yang mengembangkan intelligence mengarah pada sebuah field science baru. Keberadaan sejumlah Akademi di Russia, bahkan Sekolah Tinggi sampai Graduate School di USA (bersepesialisasi di bidang intelijen) merupakan langkah-langkah gradual menuju penciptaan field science of intelligence.
Sementara di sebagian besar negara "besar" seperti Inggris, Perancis, dan China, Intelligence masih dianggap sebagai seni yang dirahasiakan dan hanya diajarkan pada calon-calon agen intelijen selama beberapa tahun.
Kegiatan Intelijen Indonesia
Kegiatan intelijen selalu berdasarkan pada kepentingan nasional sebuah entitas politik (negara). Kegiatan intelijen yang bertujuan mengetahui keadaan pihak lawan disebut juga spionase (espionage). Sedangkan kegiatan intelijen untuk mencegah lawan mengetahui keadaan negara kita disebut counterintelligence.
Kegiatan intelijen yang dimanfaatkan kekuatan politik domestik untuk melanggengkan kekuasaan biasanya menjadi suatu bentuk polisi rahasia dan bukan lagi melaksanakan fungsi dasar intelijen. Karena lawan disini sudah dikorupsi menjadi musuh politik dalam negeri.
Salah satu unsur pembusukan organisasi intelijen di Indonesia adalah perubahan fungsi intelijen yang ideal menjadi alat politik presiden.
Hal ini dimungkinkan oleh doktrin single client kepada presiden dan hilangnya fungsi kontrol dari parlemen pada kepeminpinan mantan presiden Suharto.
Meski reformasi sudah berjalan doktrin single client tersebut masih terlalu kuat mempengaruhi kinerja intelijen nasional. Akibatnya operasi intelijen Indonesia masih dipengaruhi oleh kepentingan politik presiden yang tidak menjamin terciptanya obyektifitas analisis dan profesionalisme kerja.
Seharusnya doktrin single client tersebut dibatasi dengan UU Intelijen yang memperjelas fungsi intelijen dan posisi badan-badan intelijen dalam sistem tata negara RI. Artinya, meskipun intelijen tetap menjunjung tinggi loyalitas kepada presiden (demi akurasi dan kecepatan reaksi eksekutif negara), namun tidak lagi bisa dikorupsi untuk kepentingan presiden dan kelompoknya semata.
Dengan demikian, anggota dan prajurit intelijen bisa mempertanggungjawabkan setiap produk analisa berdasarkan hasil operasi intelijen ke hadapan rakyat, bangsa dan tentunya juga nilai-nilai moral dan etika.
Kegiatan intelijen yang dimanfaatkan kekuatan politik domestik untuk melanggengkan kekuasaan biasanya menjadi suatu bentuk polisi rahasia dan bukan lagi melaksanakan fungsi dasar intelijen. Karena lawan disini sudah dikorupsi menjadi musuh politik dalam negeri.
Salah satu unsur pembusukan organisasi intelijen di Indonesia adalah perubahan fungsi intelijen yang ideal menjadi alat politik presiden.
Hal ini dimungkinkan oleh doktrin single client kepada presiden dan hilangnya fungsi kontrol dari parlemen pada kepeminpinan mantan presiden Suharto.
Meski reformasi sudah berjalan doktrin single client tersebut masih terlalu kuat mempengaruhi kinerja intelijen nasional. Akibatnya operasi intelijen Indonesia masih dipengaruhi oleh kepentingan politik presiden yang tidak menjamin terciptanya obyektifitas analisis dan profesionalisme kerja.
Seharusnya doktrin single client tersebut dibatasi dengan UU Intelijen yang memperjelas fungsi intelijen dan posisi badan-badan intelijen dalam sistem tata negara RI. Artinya, meskipun intelijen tetap menjunjung tinggi loyalitas kepada presiden (demi akurasi dan kecepatan reaksi eksekutif negara), namun tidak lagi bisa dikorupsi untuk kepentingan presiden dan kelompoknya semata.
Dengan demikian, anggota dan prajurit intelijen bisa mempertanggungjawabkan setiap produk analisa berdasarkan hasil operasi intelijen ke hadapan rakyat, bangsa dan tentunya juga nilai-nilai moral dan etika.
Comments: Sepakat dg pikiran Anda. Beberapa masalah mendasar yg mestinya diurai lebih dulu menyangkut ancaman kedaulatan negara. Dalam hal ini kedaulatan tidak harus dimaknai secara fisik dan militeristik. Karena realitanya, Indonesia sudah tidak berdaulat untuk tiga hajat hidup orang banyak: pangan, air & enerji.
220 juta jiwa orang Indonesia sekarang ini hanya semata-mata dipandang sbg captive market oleh negara-negara industri utara plus Jepang, Singapura & new economic tigers, seperti Korsel & Thailand. Sudah sejak 10 tahun terakhir Indonesia menjadi nett importer bahan pangan, baik mentah maupun jadi, yang menyebabkan negeri ini seperti seorang pasien yg hidupnya bergantung kepada selang infus. Maka jika terjadi gejolak harga bahan pangan, seluruh sendi rumah tangga di sekujur negeri akan berguncang juga. Contoh kongkret, tempe dan tahu, yg disebut sbg makanan rakyat. Kedelainya import dari US. Contoh lain, beras, yg suplai dalam negeri terdiri atas lebih dari 40% import. 30% suplai dalam negeri, dan sisanya cadangan berupa hibah, yg mutunya sangat buruk (populer disebut raskin, beras untuk rakyat miskin).
Air sebentar lagi rakyat Indonesia akan jadi konsumen pembayar untuk sumberdaya yg sesungguhnya bisa didapat dg mudah.
Enerji, mulai Nopember nanti kita akan disuguhi pemandangan SPBU2 yg bukan lagi Pertamina, tetapi Shell, Exxon, Petronas, dsb..
Semua ini terjadi karena sejak awalnya negeri ini dirancang (atau dipaksa rancang) menjadi negeri pengutang. Coba buka sejarah awal naiknya Suharto. Tahun 1969, konsultan hukum yg dibayar Freeport McMorran sudah ngalor-ngidul di Jakarta. Maka lahirlah UU no 11/1969 tentang penanaman modal asing. Ia jadi pembuka jalan bagi lahirnya UU lain. Tim konsultan tsb merupakan trade off dari gelontoran dollar AS yg di"hibah"kan IMF dan World Bank untuk "memecahkan" masalah moneter yg dihadapi Indonesia saat peralihan Orla ke Orba.
220 juta jiwa orang Indonesia sekarang ini hanya semata-mata dipandang sbg captive market oleh negara-negara industri utara plus Jepang, Singapura & new economic tigers, seperti Korsel & Thailand. Sudah sejak 10 tahun terakhir Indonesia menjadi nett importer bahan pangan, baik mentah maupun jadi, yang menyebabkan negeri ini seperti seorang pasien yg hidupnya bergantung kepada selang infus. Maka jika terjadi gejolak harga bahan pangan, seluruh sendi rumah tangga di sekujur negeri akan berguncang juga. Contoh kongkret, tempe dan tahu, yg disebut sbg makanan rakyat. Kedelainya import dari US. Contoh lain, beras, yg suplai dalam negeri terdiri atas lebih dari 40% import. 30% suplai dalam negeri, dan sisanya cadangan berupa hibah, yg mutunya sangat buruk (populer disebut raskin, beras untuk rakyat miskin).
Air sebentar lagi rakyat Indonesia akan jadi konsumen pembayar untuk sumberdaya yg sesungguhnya bisa didapat dg mudah.
Enerji, mulai Nopember nanti kita akan disuguhi pemandangan SPBU2 yg bukan lagi Pertamina, tetapi Shell, Exxon, Petronas, dsb..
Semua ini terjadi karena sejak awalnya negeri ini dirancang (atau dipaksa rancang) menjadi negeri pengutang. Coba buka sejarah awal naiknya Suharto. Tahun 1969, konsultan hukum yg dibayar Freeport McMorran sudah ngalor-ngidul di Jakarta. Maka lahirlah UU no 11/1969 tentang penanaman modal asing. Ia jadi pembuka jalan bagi lahirnya UU lain. Tim konsultan tsb merupakan trade off dari gelontoran dollar AS yg di"hibah"kan IMF dan World Bank untuk "memecahkan" masalah moneter yg dihadapi Indonesia saat peralihan Orla ke Orba.
Bagaimana seorang intelijen mampu mengendalikan segala macam emosi dalam situasi yang sangat genting sekalipun?
Bagaimana seorang intelijen yang mengalami perdebatan bathin antara nurani dan tugas mampu mengambil keputusan yang tepat?
Apakah dua hal di atas bisa tercipta secara tiba-tiba?
Berikut ini sebuah latihan sederhana yang biasa dilakukan intel junior yang baru masuk dalam lingkaran pendidikan intelijen.
1. Setiap intel junior membawa 1 pak korek api yang isinya 1o box.
2. Seluruh batang korek api yang ada di dalam box dibuka dan dihamburkan diatas meja secara acak.
3. Di acak-acak lagi hingga tidak berarturan.
4. Kemudian batang korek yangberantakan itu disusun satu persatu dengan prinsip satu arah. Misalnya kepala batang korek disebelah barat semua.
5. Demikian berulang-ulang sampai kurang lebih dua jam. Biasanya kebosanan sudah mulai terlukis di wajah calon intel karena tidak bisa melihat manfaatnya.
6. Setelah berulang-ulang menyusun batang korek dalam satu arah terjadi proses penyelarasan pikiran, dalam satu tujuan target dan memperteguh motivasi.
7. Sambil melakukan penyusunan batang korek instruktur menjelaskan bahwa kekisruhan dalam diri manusia yang merupakan pertentangan bathin (kesadaran/consciousness) dan pertentangan dalam pikiran adalah hal yg wajar. Yang perlu dilakukan oleh seorang intel adalah mengarahkan kekisruhan itu dalam tujuan ideal yang secara etis bisa diterima oleh prinsip-prinsip individual seorang intel.
8. Contoh paling ekstrim adalah penghilangan nyawa manusia. Secara etika universal hal ini tentu tidak bisa diterima oleh siapapun. Tetatpi ketika telah diargumentasikan dengan maksud dan tujuan penghilangan nyawa tersebut untuk apa, maka diharapkan proses penyelarasan lahir-bathin seorang intel menjadi semakin kuat.
9. Puncaknya adalah terciptanya determinasi dalam diri seorang intel dan penghilangan motif pribadi dalam suatu operasi pembunuhan misalnya. Hal ini jelas akan mengurangi beban rasa bersalah seseorang yang secara etika universal melakukan salah satu kesalahan atau dosa besar.
10. Banyak ahli psikologi menuduh proses latihan ini sebagai bentuk cuci otak untuk menciptakan mesin pembunuh. Sesungguhnya tidak demikian, karena pembunuhan sangatlah jarang dilakukan oleh intelijen baik di masa perang dunia, perang dingin maupun pasca perang dingin. Hal ini menjadi dasar survival seorang intel yang harus bertugas di wilayah lawan (negara lain), dimana dalam operasi bisa disamakan dengan situasi perang, membunuh atau dibunuh. Lebih tepat bila hal ini terkait erat dengan prinsip keselamatan pribadi dan pengamanan pribadi seorang intel yang sedang bertugas.
11. Pembunuhan aktif dalam bentuk operasi lebih banyak dilakukan oleh tim khusus yang biasanya dikenal dengan istilah Black Cell Task Force yang sengaja diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan kotor pemerintah. Pada umumnya mereka yang tergabung dalam Task Force tersebut sudah pernah membunuh dengan menatap langsung mata korbannya, tanpa ada emosi pribadi. Contoh paling jelas dalam sejarah adalah Tim Pembunuh yang dibentuk oleh PM Israel Golda Meir sebagai balasan atas tragedi pembunuhan atlet Israel di Muenchen, Jerman. Tim tersebut tidak melakukan operasi intelijen melainkan melakukan operasi penghilangan nyawa musuh negara. Latihan mereka tentunya jauh dari sekedar menyusun batang korek api. Satu prinsip yang sangat menarik adalah bahwa setiap pembentukan Tim Khusus dimanapun didunia pasti tidak akan memiliki garis hubungan dengan institusi resmi intelijen sebuah negara. Apabila ada yang kemudian mengaitkan dengan Mossad atau Sinbeth dalam kasus Tim Golda Meir, ini hanya karena ada keinginan dari Mossad/Sinbeth agar institusinya disegani di dunia. Itulah sebabnya Tim yang sejenis ini disebut Black Cell.
12. Latihan menyusun batang korek adalah suatu bentuk disiplin diri yg paling kecil dari ratusan teknik intelijen lainnya untuk menciptakan insan intelijen yang handal dan profesional.
Bagaimana seorang intelijen yang mengalami perdebatan bathin antara nurani dan tugas mampu mengambil keputusan yang tepat?
Apakah dua hal di atas bisa tercipta secara tiba-tiba?
Berikut ini sebuah latihan sederhana yang biasa dilakukan intel junior yang baru masuk dalam lingkaran pendidikan intelijen.
1. Setiap intel junior membawa 1 pak korek api yang isinya 1o box.
2. Seluruh batang korek api yang ada di dalam box dibuka dan dihamburkan diatas meja secara acak.
3. Di acak-acak lagi hingga tidak berarturan.
4. Kemudian batang korek yangberantakan itu disusun satu persatu dengan prinsip satu arah. Misalnya kepala batang korek disebelah barat semua.
5. Demikian berulang-ulang sampai kurang lebih dua jam. Biasanya kebosanan sudah mulai terlukis di wajah calon intel karena tidak bisa melihat manfaatnya.
6. Setelah berulang-ulang menyusun batang korek dalam satu arah terjadi proses penyelarasan pikiran, dalam satu tujuan target dan memperteguh motivasi.
7. Sambil melakukan penyusunan batang korek instruktur menjelaskan bahwa kekisruhan dalam diri manusia yang merupakan pertentangan bathin (kesadaran/consciousness) dan pertentangan dalam pikiran adalah hal yg wajar. Yang perlu dilakukan oleh seorang intel adalah mengarahkan kekisruhan itu dalam tujuan ideal yang secara etis bisa diterima oleh prinsip-prinsip individual seorang intel.
8. Contoh paling ekstrim adalah penghilangan nyawa manusia. Secara etika universal hal ini tentu tidak bisa diterima oleh siapapun. Tetatpi ketika telah diargumentasikan dengan maksud dan tujuan penghilangan nyawa tersebut untuk apa, maka diharapkan proses penyelarasan lahir-bathin seorang intel menjadi semakin kuat.
9. Puncaknya adalah terciptanya determinasi dalam diri seorang intel dan penghilangan motif pribadi dalam suatu operasi pembunuhan misalnya. Hal ini jelas akan mengurangi beban rasa bersalah seseorang yang secara etika universal melakukan salah satu kesalahan atau dosa besar.
10. Banyak ahli psikologi menuduh proses latihan ini sebagai bentuk cuci otak untuk menciptakan mesin pembunuh. Sesungguhnya tidak demikian, karena pembunuhan sangatlah jarang dilakukan oleh intelijen baik di masa perang dunia, perang dingin maupun pasca perang dingin. Hal ini menjadi dasar survival seorang intel yang harus bertugas di wilayah lawan (negara lain), dimana dalam operasi bisa disamakan dengan situasi perang, membunuh atau dibunuh. Lebih tepat bila hal ini terkait erat dengan prinsip keselamatan pribadi dan pengamanan pribadi seorang intel yang sedang bertugas.
11. Pembunuhan aktif dalam bentuk operasi lebih banyak dilakukan oleh tim khusus yang biasanya dikenal dengan istilah Black Cell Task Force yang sengaja diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan kotor pemerintah. Pada umumnya mereka yang tergabung dalam Task Force tersebut sudah pernah membunuh dengan menatap langsung mata korbannya, tanpa ada emosi pribadi. Contoh paling jelas dalam sejarah adalah Tim Pembunuh yang dibentuk oleh PM Israel Golda Meir sebagai balasan atas tragedi pembunuhan atlet Israel di Muenchen, Jerman. Tim tersebut tidak melakukan operasi intelijen melainkan melakukan operasi penghilangan nyawa musuh negara. Latihan mereka tentunya jauh dari sekedar menyusun batang korek api. Satu prinsip yang sangat menarik adalah bahwa setiap pembentukan Tim Khusus dimanapun didunia pasti tidak akan memiliki garis hubungan dengan institusi resmi intelijen sebuah negara. Apabila ada yang kemudian mengaitkan dengan Mossad atau Sinbeth dalam kasus Tim Golda Meir, ini hanya karena ada keinginan dari Mossad/Sinbeth agar institusinya disegani di dunia. Itulah sebabnya Tim yang sejenis ini disebut Black Cell.
12. Latihan menyusun batang korek adalah suatu bentuk disiplin diri yg paling kecil dari ratusan teknik intelijen lainnya untuk menciptakan insan intelijen yang handal dan profesional.
The Lockwood Analytical Method for Prediction (LAMP)
The Lockwood Analytical Method for Prediction (LAMP)
An Innovative Methodological Approach to the Problem of Predictive Analysis.
Background of LAMP
The method was developed by Dr. Jonathan Lockwood in 1992 while in DCI Exceptional Intelligence Analyst Program. It is utilized by numerous graduate students in JMIC as core methodology in MSSI theses. It was first published in Defense Intelligence Journal in Fall 1994.
Philosophical Basis of LAMP
The Future Is...
- Not Predetermined.
- The Sum Total of All Interactions of Free Will.
- A Dynamic Spectrum of Constantly Changing Relative Probabilities.
The 12 Steps of LAMP
1. Determine the Predictive Issue.
2. Specify the Actors Bearing on the Problem.
3. Conduct in-depth study of perceptions and intentions of each actor.
4. Specify courses of action for each actor.
5. Determine the major scenarios.
6. Calculate the number of alternate futures.
7. Do pairwise comparison of alternate futures.
8. Rank order the alternate futures.
9. Analyze consequences of alternate futures.
10. Determine focal events for alternate futures.
11. Develop indicators for each focal event.
12. Assess the potential for transposition between alternate futures.
A Step-by-Step Example of a LAMP Analysis:
"Its Application to the Chilean Economic Situation and the Middle East"
Step 1. Determine the Predictive Issue
What are the economic consequences of the Middle East crisis for Chile?
- Trade relations with Chile
- Potential Impact on other Chilean trade partners
- What if war occurs?
Step 2. Specify the Actors Bearing on the Problem
Actors should include most significant trade partners
- Israel
- Egypt
- Syria
- Others? (Iran, Iraq, Saudi Arabia?)
Step 3. Conduct in-depth study of perceptions and intentions of each actor
Analysis should focus on following:
- How does each actor view Chile? (friend, enemy, neutral)
- How significant is the economic relationship between each actor and Chile?
- What historical and contemporary factors may have an influence on their perceptions?
- The primary concern: Avoid ?mirror-imaging? in the analysis
Step 4. Specify courses of action for each actor
Potential Courses of Action for Each Actor:
- Increase Trade with Chile
- Decrease Trade with Chile
- Take No Action on Chilean Trade (Status Quo)
Step 5. Determine the major scenarios
Scenario I : Peaceful Resolution Favoring Israel
Scenario II : Peaceful Resolution Favoring Palestinians
Scenario III : No Resolution (continuing crisis)
Scenario IV : War Breaks Out in Middle East
Step 6. Calculate the number of alternate futures
- Hypothetical example:
- Assume three actors (Israel, Egypt, Syria) as y
- Take two courses of action for each actor as x
- Using xy= z (where z is number of alternate futures)
- We arrive at 23 = 8 alternate futures
- Beware of trying to include too many actors or courses of action in a single problem!
Step 7. Do pairwise comparison of alternate futures
ACTOR ISRAEL EGYPT SYRIA
Alt. Fut. 1 IT IT IT
Alt. Fut. 2 IT DT IT
Alt. Fut. 3 IT DT DT
Alt. Fut. 4 IT IT DT
Alt. Fut. 5 DT IT DT
Alt. Fut. 6 DT DT IT
Alt. Fut. 7 DT IT IT
Alt. Fut. 8 DT DT DT
- For each pair of alternate futures in a scenario, we ask:Based on everything we know up to this moment in time, which one of these futures is more likely to happen?
- Assume that the pair of futures you are voting on are the only ones that exist at the moment
- Each future chosen receives one vote
Step 8. Rank order the alternate futures
ALT. FUTURE NUM. OF VOTES
Alt. Fut. 1
Alt. Fut. 2
Alt. Fut. 3
Alt. Fut. 4
Alt. Fut. 5
Alt. Fut. 6
Alt. Fut. 7
Alt. Fut. 8
Total num. of votes 8 (8-1)/2 = 28 total votes
- Each alternate future will have a certain number of votes, ranked from highest relative probability to least relative probability based on the number of votes received
- This rank order represents a "snapshot in time"
- The rank order of relative probability can change with receipt of new information
Step 9. Analyze consequences of alternate futures
Normally, all futures would be analyzedMost political and military decision-makers will be interested only in three to five most likely futuresAssume that each alternate future actually happens:
- Describe effects on Chilean economy (if any)
- Assess potential long-term effects on other partners
- What are potential consequences in other areas?
Step 10. Determine focal events for alternate futures
For each alternate future, we must ask:
- What events must occur in our present to create this alternate future?
- Focal events are major occurrences that directly affect the relative probability of alternate futures (Example: Israel decides to increase trade with Chile)
- If most likely future has no focal events attached to it, it means that our present is the most likely future
Step 11. Develop indicators for each focal event
- Indicators are a subset of focal events
- Each focal event will have at least one ?indicator? tied to it which tells you that the focal event is about to occur
- Indicators and focal events are part of the ?analytic map? which make up the chain of occurrences within an alternate future
Step 12. Assess the potential for transposition between alternate futures
- Transposition is a highly abstract concept
- When alternate futures share common focal events and indicators, there is the potential for transposition
- If a ?unique? focal event in a less likely alternate future occurs, that single event has the power to change a less likely alternate future into the most likely one
Conclusions
- Policymakers are interested in influencing the future, not simply predicting it
- A good LAMP analysis can illustrate the focal events and indicators associated with the alternate future that the policymaker wants to occur; it is these events and indicators that the policymaker must influence, if he can
-This example shows how LAMP could be used to affect Chilean economic and diplomatic policy
Limitations of LAMP
- Exponential explosion problem with alternate futures.
- Analyst can identify "most likely" future, but cannot assign a quantifiable probability of occurrence for each future.
- Little allowance for ambiguity.
Potential Applications for LAMP
- Indications and Warning.- Estimative Intelligence.
- Common analytical method for intelligence.
- Computer software.
- Training.
- Interface between academic and intelligence communities.
- Tactical intelligence (?).
Conclusions
- LAMP does not grant the gift of prophecy.
- LAMP is not an infallible method.
- LAMP does provide a logical and powerful method for analyzing the future's many possible paths.
An Innovative Methodological Approach to the Problem of Predictive Analysis.
Background of LAMP
The method was developed by Dr. Jonathan Lockwood in 1992 while in DCI Exceptional Intelligence Analyst Program. It is utilized by numerous graduate students in JMIC as core methodology in MSSI theses. It was first published in Defense Intelligence Journal in Fall 1994.
Philosophical Basis of LAMP
The Future Is...
- Not Predetermined.
- The Sum Total of All Interactions of Free Will.
- A Dynamic Spectrum of Constantly Changing Relative Probabilities.
The 12 Steps of LAMP
1. Determine the Predictive Issue.
2. Specify the Actors Bearing on the Problem.
3. Conduct in-depth study of perceptions and intentions of each actor.
4. Specify courses of action for each actor.
5. Determine the major scenarios.
6. Calculate the number of alternate futures.
7. Do pairwise comparison of alternate futures.
8. Rank order the alternate futures.
9. Analyze consequences of alternate futures.
10. Determine focal events for alternate futures.
11. Develop indicators for each focal event.
12. Assess the potential for transposition between alternate futures.
A Step-by-Step Example of a LAMP Analysis:
"Its Application to the Chilean Economic Situation and the Middle East"
Step 1. Determine the Predictive Issue
What are the economic consequences of the Middle East crisis for Chile?
- Trade relations with Chile
- Potential Impact on other Chilean trade partners
- What if war occurs?
Step 2. Specify the Actors Bearing on the Problem
Actors should include most significant trade partners
- Israel
- Egypt
- Syria
- Others? (Iran, Iraq, Saudi Arabia?)
Step 3. Conduct in-depth study of perceptions and intentions of each actor
Analysis should focus on following:
- How does each actor view Chile? (friend, enemy, neutral)
- How significant is the economic relationship between each actor and Chile?
- What historical and contemporary factors may have an influence on their perceptions?
- The primary concern: Avoid ?mirror-imaging? in the analysis
Step 4. Specify courses of action for each actor
Potential Courses of Action for Each Actor:
- Increase Trade with Chile
- Decrease Trade with Chile
- Take No Action on Chilean Trade (Status Quo)
Step 5. Determine the major scenarios
Scenario I : Peaceful Resolution Favoring Israel
Scenario II : Peaceful Resolution Favoring Palestinians
Scenario III : No Resolution (continuing crisis)
Scenario IV : War Breaks Out in Middle East
Step 6. Calculate the number of alternate futures
- Hypothetical example:
- Assume three actors (Israel, Egypt, Syria) as y
- Take two courses of action for each actor as x
- Using xy= z (where z is number of alternate futures)
- We arrive at 23 = 8 alternate futures
- Beware of trying to include too many actors or courses of action in a single problem!
Step 7. Do pairwise comparison of alternate futures
ACTOR ISRAEL EGYPT SYRIA
Alt. Fut. 1 IT IT IT
Alt. Fut. 2 IT DT IT
Alt. Fut. 3 IT DT DT
Alt. Fut. 4 IT IT DT
Alt. Fut. 5 DT IT DT
Alt. Fut. 6 DT DT IT
Alt. Fut. 7 DT IT IT
Alt. Fut. 8 DT DT DT
- For each pair of alternate futures in a scenario, we ask:Based on everything we know up to this moment in time, which one of these futures is more likely to happen?
- Assume that the pair of futures you are voting on are the only ones that exist at the moment
- Each future chosen receives one vote
Step 8. Rank order the alternate futures
ALT. FUTURE NUM. OF VOTES
Alt. Fut. 1
Alt. Fut. 2
Alt. Fut. 3
Alt. Fut. 4
Alt. Fut. 5
Alt. Fut. 6
Alt. Fut. 7
Alt. Fut. 8
Total num. of votes 8 (8-1)/2 = 28 total votes
- Each alternate future will have a certain number of votes, ranked from highest relative probability to least relative probability based on the number of votes received
- This rank order represents a "snapshot in time"
- The rank order of relative probability can change with receipt of new information
Step 9. Analyze consequences of alternate futures
Normally, all futures would be analyzedMost political and military decision-makers will be interested only in three to five most likely futuresAssume that each alternate future actually happens:
- Describe effects on Chilean economy (if any)
- Assess potential long-term effects on other partners
- What are potential consequences in other areas?
Step 10. Determine focal events for alternate futures
For each alternate future, we must ask:
- What events must occur in our present to create this alternate future?
- Focal events are major occurrences that directly affect the relative probability of alternate futures (Example: Israel decides to increase trade with Chile)
- If most likely future has no focal events attached to it, it means that our present is the most likely future
Step 11. Develop indicators for each focal event
- Indicators are a subset of focal events
- Each focal event will have at least one ?indicator? tied to it which tells you that the focal event is about to occur
- Indicators and focal events are part of the ?analytic map? which make up the chain of occurrences within an alternate future
Step 12. Assess the potential for transposition between alternate futures
- Transposition is a highly abstract concept
- When alternate futures share common focal events and indicators, there is the potential for transposition
- If a ?unique? focal event in a less likely alternate future occurs, that single event has the power to change a less likely alternate future into the most likely one
Conclusions
- Policymakers are interested in influencing the future, not simply predicting it
- A good LAMP analysis can illustrate the focal events and indicators associated with the alternate future that the policymaker wants to occur; it is these events and indicators that the policymaker must influence, if he can
-This example shows how LAMP could be used to affect Chilean economic and diplomatic policy
Limitations of LAMP
- Exponential explosion problem with alternate futures.
- Analyst can identify "most likely" future, but cannot assign a quantifiable probability of occurrence for each future.
- Little allowance for ambiguity.
Potential Applications for LAMP
- Indications and Warning.- Estimative Intelligence.
- Common analytical method for intelligence.
- Computer software.
- Training.
- Interface between academic and intelligence communities.
- Tactical intelligence (?).
Conclusions
- LAMP does not grant the gift of prophecy.
- LAMP is not an infallible method.
- LAMP does provide a logical and powerful method for analyzing the future's many possible paths.
Reformasi Intelijen
7 tahun setelah bergulirnya reformasi, apakah reformasi intelijen juga terjadi?
Bila kita menilik perubahan signifikan dalam lembagai intelijen tertinggi di republik ini, maka sekilas kita akan melihat sosok Badan Intelijen Negara (BIN) yang berbeda dengan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) di masa lalu. Sayang, letak perbedaannya hanya pada kata koordinasi.....yang bisa diartikan hilangnya fungsi koordinasi atau mungkin juga upaya menjadikan badan yang sungguh-sungguh memiliki operasionalisasi yang memadai.
Lebih lanjut, bila kita menilik badan intelijen lain semisal Badan Intelijen Strategis (BAIS) milik militer dan Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) milik Polri, unit intelijen Departemen seperti di Depkumham, Kejaksaan Agung, Direktorat Sospol Depdagri maka tidak sedikitpun perubahan. Bahkan apa yang kita kenal sebagai komunitas intelijen yang dikoordinir BIN masih tetap berjalan. Karena bentuk komunitas intel itu lebih mirip ngobrol sambil ngopi bareng serta "sedikit" pengarahan, maka pengaruhnya bisa jadi sangat-sangat lemah.
Ketika Amerika Serikat diguncang teror bom yang kita kenal dengan sebutan 9/11, serta-merta terjadi desakan dilakukannya reformasi nasional atas organisasi dan gelar operasi seluruh jajaran intelijen. Tidak ada sesuatupun yang berdampak serius ke dalam organisasi, karena kongres dan eksekutif sangat menghargai keberadaan organisasi intelijen seburuk apapun kinerja mereka.
Tapi di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya, fungsi intelijen semakin kerdil, marjinal dan saya perkirakan hanya kan menjadi mata-telinga penguasa menjelang pesta demokrasi lima tahunan, akibatnya profesionalisme organisasi semakin terabaikan.
Tingkat frustasi para intel telah mendekati suatu kondisi yang memprihatinkan. Dengan sistem single client yang patuh total pada presiden, maka tidak mau tidak semua unsur intelijen, khususnya BIN telah berubah menjadi alat politik yang signifikan.
Kalau benar-benar diperhatikan apa fungsi dari Badan Intelijen di negara RI, kita tinggal melihat ke dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu bisa dijabarkan sebagai berikut:
"Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, yang dijabarkan dalam bentuk tugas mengkoordinasikan perencanaan umum dan pelaksanaan operasional kegiatan intelijen diantara instansi-instansi lainnya yang memiliki fungsi intelijen dan mendukung penyelenggaraan tugas pokok intelijen masing-masing instansi. Memberikan keterangan-keterangan rahasia yang akurat dan tepat waktu kepada presiden dan kabinet. Mengumpulkan keterangan rahasia luar negeri, keterangan rahasia dalam negeri, melakukan analisa, melaklukan kontra-spionase, dan melakukan kontra-terorisme."
Tetapi apa daya mimpi tak sampai, kooptasi organisasi intelijen oleh kekuatan politik dan kepentingan sesaat para penguasa telah melemahkan organisasi intelijen itu sendiri. Ini apa yang saya sebut sebagai hilangnya profesionalisme dan nurani kerakyatan/kebangsaan yang seharusnya melekat di hati setiap insan intelijen.
Sekedar bukti-bukti politik:
Bila kita menilik perubahan signifikan dalam lembagai intelijen tertinggi di republik ini, maka sekilas kita akan melihat sosok Badan Intelijen Negara (BIN) yang berbeda dengan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) di masa lalu. Sayang, letak perbedaannya hanya pada kata koordinasi.....yang bisa diartikan hilangnya fungsi koordinasi atau mungkin juga upaya menjadikan badan yang sungguh-sungguh memiliki operasionalisasi yang memadai.
Lebih lanjut, bila kita menilik badan intelijen lain semisal Badan Intelijen Strategis (BAIS) milik militer dan Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) milik Polri, unit intelijen Departemen seperti di Depkumham, Kejaksaan Agung, Direktorat Sospol Depdagri maka tidak sedikitpun perubahan. Bahkan apa yang kita kenal sebagai komunitas intelijen yang dikoordinir BIN masih tetap berjalan. Karena bentuk komunitas intel itu lebih mirip ngobrol sambil ngopi bareng serta "sedikit" pengarahan, maka pengaruhnya bisa jadi sangat-sangat lemah.
Ketika Amerika Serikat diguncang teror bom yang kita kenal dengan sebutan 9/11, serta-merta terjadi desakan dilakukannya reformasi nasional atas organisasi dan gelar operasi seluruh jajaran intelijen. Tidak ada sesuatupun yang berdampak serius ke dalam organisasi, karena kongres dan eksekutif sangat menghargai keberadaan organisasi intelijen seburuk apapun kinerja mereka.
Tapi di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya, fungsi intelijen semakin kerdil, marjinal dan saya perkirakan hanya kan menjadi mata-telinga penguasa menjelang pesta demokrasi lima tahunan, akibatnya profesionalisme organisasi semakin terabaikan.
Tingkat frustasi para intel telah mendekati suatu kondisi yang memprihatinkan. Dengan sistem single client yang patuh total pada presiden, maka tidak mau tidak semua unsur intelijen, khususnya BIN telah berubah menjadi alat politik yang signifikan.
Kalau benar-benar diperhatikan apa fungsi dari Badan Intelijen di negara RI, kita tinggal melihat ke dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu bisa dijabarkan sebagai berikut:
"Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, yang dijabarkan dalam bentuk tugas mengkoordinasikan perencanaan umum dan pelaksanaan operasional kegiatan intelijen diantara instansi-instansi lainnya yang memiliki fungsi intelijen dan mendukung penyelenggaraan tugas pokok intelijen masing-masing instansi. Memberikan keterangan-keterangan rahasia yang akurat dan tepat waktu kepada presiden dan kabinet. Mengumpulkan keterangan rahasia luar negeri, keterangan rahasia dalam negeri, melakukan analisa, melaklukan kontra-spionase, dan melakukan kontra-terorisme."
Tetapi apa daya mimpi tak sampai, kooptasi organisasi intelijen oleh kekuatan politik dan kepentingan sesaat para penguasa telah melemahkan organisasi intelijen itu sendiri. Ini apa yang saya sebut sebagai hilangnya profesionalisme dan nurani kerakyatan/kebangsaan yang seharusnya melekat di hati setiap insan intelijen.
Sekedar bukti-bukti politik:
- Perkembangan intelijen di tanah nusantara mulai tumbuh setelah RIS dilebur menjadi RI dan menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950. Dimana mantan presiden Soekarno pada bulan Desember 1958 membentuk Badan Koordinasi Intelijen (BKI), tetapi pada bulan November 1959, Badan Koordinasi Intelijen (BKI) dirubah namanya menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI) yang dalam bahasa Inggris = CIA. Tokoh yang ditugasi dan diberi tanggung jawab oleh mantan presiden Soekarno untuk mengurus dan menjalankan Badan Pusat Intelijen (BPI) adalah Menteri Luar Negeri Subandrio (orang dekat presiden yang kemudian juga terseret dalam sengketa politik nasional).
- Ketika terjadi pergantian kekuasaan ke tangan Jenderal Soeharto, itu Badan Pusat Intelijen (BPI) dibubarkan dan "dibersihkan" pada tanggal 22 Agustus 1966, digantikan oleh Komando Intelijen Negara (KIN) yang langsung dibawah komando Jenderal Soeharto dengan bantuan tokoh intel kawakan Sudirgo tentunya. Kemudian pada tanggal 22 Mei 1967, Komando Intelijen Negara (KIN) berganti nama menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), pemimpin lembaga baru ini adalah Jenderal-jenderal terdekat dengan presiden yang sedang menjabat. Nama-nama tokoh intelijen Indonesia seperti Letjen (purn) Sutopo Yuwono, Jenderal (purn) Yoga Soegomo, Letjen (purn) Sudibyo, Letjen (purn) Moetojib, Letjen (purn) ZA Maulani, Letjen (purn) Arie J. Kumaat, Jenderal (purn) AM. Hendropriyono, dan terakhir Mayjen (purn) Syamsir Siregar semuanya adalah orangnya presiden.
- Kiprah pemimpin BAKIN yang pertama tidak terlalu lama karena pertentangan dengan para petinggi militer, sehingga pada tahun 1974 harus digantikan oleh pemimpin yang lebih disenangi kalangan militer aktif dan khususnya mantan presiden Suharto.
- Pada masa mantan Presiden Suharto, kepemimpinan Jenderal Yoga Soegomo jelas tidak bisa dipungkiri nama besarnya, karena ranking militernya yang jenderal penuh didukung oleh model operasi gaya Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB). Kepemimpinan gaya flamboyan yang melebihi wewenang berdasarkan hukum positif itu telah mengabaikan pentingnya penataan hukum nasional dalam bidang pertahanan dan keamanan (security). Keberadaan hukum antisubversi dan kekuatan politik nasional yang bersandarkan pada militerisme telah membuat terbuai organisasi intelijen. Jelas sekali peran intelijen sebagai kepanjangan tangan penguasa, dan kedekatan BAKIN dengan mantan Presiden Suharto tidaklah mungkin untuk dibantah.
- Anomali organisasi BAKIN terjadi setidaknya dua kali yaitu pertama ketika Ali Moertopo waktu itu berpangkat Brigjen memegang posisi sebagai salah satu Deputi Operasi yang sangat berpengaruh. BAKIN kalah terkenal oleh apa yang masyarakat kenal sebagai Opsus (Operasi Khusus). Kedua yaitu ketika Benny Moerdhani yg masih Mayjen menjabat sebagai Wakil Kepala BAKIN, upaya pengrusakan organisasi sipil dibawah militer sangat kentara terjadi di BAKIN. Akibatnya intelijen sipil benar-benar mandul, impoten dan dikuasai oleh militer seutuhnya. Pada anomali organisasi yang kedua, yaitu dibawah kepemimpinan Sudibyo yang terjadi adalah kemandulan organisasi BAKIN tersebut tidak segera diatasi dengan revitalisasi organisasi yang mengupayakan kemandirian intelijen sipil. Anggota intelijen lebih banyak disuapi "bingkisan" dari rekanan pengusaha pimpinan dan lupa dengan tugas pokok organisasi. Sehingga peranan BAIS jelas jauh lebih menonjol ketimbang BAKIN yang secara teori jauh lebih tinggi.
- Adalah Letjen (purn) Moetojib yang pertama berusaha lebih netral dalam soal politik nasional, yaitu ketika memutuskan untuk tidak turut serta dalam rekayasa penggembosan PDI (Megawati).
- Upaya serius memperbaiki kinerja BAKIN diawali oleh gebrakan Letjen (purn) ZA Maulani yang sempat memiliki waktu untuk mengevaluasi kerja BAKIN saat menjabat sebagai pimpinan Setwapres. Letjen (purn) ZA Maulani sangat menyadari kualitas produk BAKIN yang diibaratkan sebagai garbage in garbage out (semuanya analisa BAKIN bagaikan sampah busuk). Disadari atau tidak oleh orang-orang BAKIN, pernyataan Letjen (purn) ZA Maulani tersebut tidak mengherankan, karena faktanya BAKIN telah terperosok ke dalam jurang kehancuran organisasi melalui dominasi militer dan hilangnya jiwa pengabdian intelijen yang profesional.
- Letjen (purn) ZA Maulani masih sempat meninggalkan berkas reformasi organisasi yang bertujuan merombak organisasi dan gelar operasinya. Berkas tersebut dilanjutkan oleh Letjen (purn) Arie J. Kumaat karena seperti biasa pergantian presiden berarti pergantian Kepala Badan Intelijen. Betapa beratnya kepemimpinan Letjen (purn) Arie J. Kumaat karena konon ia bukan pilihan Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid).
- Reformasi intelijen dalam tubuh BAKIN yang kemudian dikukuhkan menjadi BIN di era Letjen (purn) Arie J. Kumaat tersebut semakin berkibar ketika pemimpin flamboyan Letjen (purn) AM Hendropriyono diangkat sebagai Kepala BIN dengan status setingkat Menteri Negara. Langkah-langkah perbaikan organisasi juga dilaksanakan sejalan dengan semangat menjadikan BIN sebagai organisasi yang profesional. Sayangnya nuansa politis masih terasa seperti juga pada masa-masa kepemimpinan sebelumnya. Kedekatan Letjen (purn) AM Hendropriyono yang kemudian mendapat pangkat kehormatan sebagai Jenderal dari mantan presiden Megawati tidak diragukan lagi kedekatannya dengan presiden. Sebuah upaya positif adalah memperkuat posisi sipil dalam organisasi BIN, bahkan ikut mengusulkan agar Kepala BIN bisa dipimpin orang sipil.
- Terakhir adalah menurunnya kembali status Kepala BIN. Meski fakta pangkat militer pemimpin yang terakhir hanya berbintang 2, tidak berarti kemampuannya memimpin organisasi intelijen patut diragukan. Mayjen (purn) Syamsir Siregar sebagai teman dekat presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sekarang berkuasa, memikul beban yang sangat berat baik secara internal maupun eksternal. Dengan pengalaman memimpin lembaga intelijen TNI (BIA/BAIS) tentunya harapan membawa BIN menjadi organisasi yang profesional, disegani dan disayangi rakyat menjadi tugas utamanya. Kemandegan reformasi intelijen yang tidak jelas mau kemana, persoalan profesionalisme intelijen, dan semakin menurunnya citra intelijen di mata publik seyogyanya segera diatasi secara profesional. Tentu saja soal kedekatan Kepala Badan Intelijen dengan presiden juga patut mendapat sorotan, karena selayaknya kedekatan itu tidak kembali menjerumuskan dan menghancurkan organisasi yang dibangun demi kejayaan bangsa Indonesia.
Problem Solving Ala Intel
Begitu banyak metode atau cara untuk menyelesaikan sebuah permasalahan tetapi begitu sedikit skill/kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempraktekkan metode-metode tersebut. Keterjebakan kita dalam sebuah kerangka teori atau cara otak berpikir atas suatu masalah seringkali membuat kita lupa tentang pokok permasalahan yang dihadapi. Akibatnya tentu saja mendorong kita untuk mengambil langkah-langkah yang jauh penyelesaian pokok permasalahannya.
Sebuah cara sederhana adalah dengan mengurutkan secara terstruktur jawaban yang kita temukan atas sebuah persoalan. Pada bagian akhirnya kita mengkonfrontasikan jawaban akhir dengan persoalan awal.
Contoh kasus. Dengan pertanyaan pokok Bagaimana.
Masalah 1. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Otak Kita?
Jawaban 1. Belajar
Masalah 2. Bagaimana belajar yang efektif?
Jawaban 2. Membaca berbagai sumber dan Berdiskusi dengan para ahli
Masalah 3. Bagaimana memilih sumber bacaan?
Bagaimana mendapatkan pencerahan dari para ahli?
Jawaban 3. Studi ke perpustakaan
Mendengarkan pendapat para ahli dengan seksama dan menanyakan hanya hal-hal
yang benar-benar belum dimengerti
Bila kita berhenti sejenak, perhatikan apakah jawaban ketiga masih menjawab soal pertama.....mungkin jawabnya masih mungkin juga tidak. Karena pertanyaan pertama yang terlalu umum seharusnya bisa dipecah lagi, kemampuan otak yang mana?
Misalnya pertanyaan dilanjutkan/diperdalam dengan pertanyaan, sbb:
Masalah 1. Bagaimana meningkatkan kemampuan otak kita? (Keinginan general)
Masalah 2. Kemampuan otak yang mana? (Klasifikasi)
Masalah 3. Ada berapa banyak tipe kemampuan otak? (mencari sebaran horisontal)
Masalah 4. Ada berapa tingkatan kemampuan otak itu? (mencari informasi ttg level vertikal)
Masalah 5. Mengapa meningkatkan kemampuan otak? (mencari alasan)
dst...dst... masihkan pendalaman pertanyaan itu relevan dengan pertanyaan awal....
Singkat kata, anda akan takjub dengan permainan pertanyaan maupun permainan tanya jawab di otak kita. Contoh di atas tentu terlalu sederhana dan umum dan tidak berdasarkan pada penelitian empiris ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Tetapi disadari ataupun tidak, mekanisme cara berpikir manusia yg telah "terotomatisasi" menjadi bagian dari bawah sadar yang tidak lagi disadari, karena kita pada umumnya hanya terpaku pada tujuan-tujuan praktis, taktis ataupun strategis.
Pelajaran sederhana ini saya terima dalam bincang-bincang ringan di sebuah ruangan berlantai marmer coklat di mana miniatur pesawat model U2 dan A12 melayang tergantung pada langit-langit, somewhere in USA.
Sebuah cara sederhana adalah dengan mengurutkan secara terstruktur jawaban yang kita temukan atas sebuah persoalan. Pada bagian akhirnya kita mengkonfrontasikan jawaban akhir dengan persoalan awal.
Contoh kasus. Dengan pertanyaan pokok Bagaimana.
Masalah 1. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Otak Kita?
Jawaban 1. Belajar
Masalah 2. Bagaimana belajar yang efektif?
Jawaban 2. Membaca berbagai sumber dan Berdiskusi dengan para ahli
Masalah 3. Bagaimana memilih sumber bacaan?
Bagaimana mendapatkan pencerahan dari para ahli?
Jawaban 3. Studi ke perpustakaan
Mendengarkan pendapat para ahli dengan seksama dan menanyakan hanya hal-hal
yang benar-benar belum dimengerti
Bila kita berhenti sejenak, perhatikan apakah jawaban ketiga masih menjawab soal pertama.....mungkin jawabnya masih mungkin juga tidak. Karena pertanyaan pertama yang terlalu umum seharusnya bisa dipecah lagi, kemampuan otak yang mana?
Misalnya pertanyaan dilanjutkan/diperdalam dengan pertanyaan, sbb:
Masalah 1. Bagaimana meningkatkan kemampuan otak kita? (Keinginan general)
Masalah 2. Kemampuan otak yang mana? (Klasifikasi)
Masalah 3. Ada berapa banyak tipe kemampuan otak? (mencari sebaran horisontal)
Masalah 4. Ada berapa tingkatan kemampuan otak itu? (mencari informasi ttg level vertikal)
Masalah 5. Mengapa meningkatkan kemampuan otak? (mencari alasan)
dst...dst... masihkan pendalaman pertanyaan itu relevan dengan pertanyaan awal....
Singkat kata, anda akan takjub dengan permainan pertanyaan maupun permainan tanya jawab di otak kita. Contoh di atas tentu terlalu sederhana dan umum dan tidak berdasarkan pada penelitian empiris ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Tetapi disadari ataupun tidak, mekanisme cara berpikir manusia yg telah "terotomatisasi" menjadi bagian dari bawah sadar yang tidak lagi disadari, karena kita pada umumnya hanya terpaku pada tujuan-tujuan praktis, taktis ataupun strategis.
Pelajaran sederhana ini saya terima dalam bincang-bincang ringan di sebuah ruangan berlantai marmer coklat di mana miniatur pesawat model U2 dan A12 melayang tergantung pada langit-langit, somewhere in USA.
Langganan:
Postingan (Atom)