Kamis, 08 April 2010

Intelijen Asing

Baru-baru ini saya menerima informasi dari Cah Bodho yang menurut saya justru lebih pantas disebut Cah Jenius. Informasi yang lumayan lengkap mengenai gerakan Intelijen Asing yang akan saya singkat dalam tulisan ini sungguh mencengangkan. Beberapa potongan informasi bahkan saya berani mengkonfirmasikannya. Berbeda dengan dugaan-dugaan intelijen yang sering dikemukakan para pengamat intelijen seperti Bung AC Manullang.
, maka informasi Cah Bodho jelas mengungkapkan gerak-gerik intelijen asing khususnya Mossad secara lumayan detail. Mereka bergerak tidak dalam jumlah yang besar, tetapi sangat efektif karena beberapa agen yang telah mendapat pelatihan melalui "paket wisata rohani" sehingga bisa masuk Israel. Keberadaan beberapa agen lokal yang telah dilatih tersebut kemudian membina beberapa informan, tanpa si informan tahu untuk siapa sebenarnya dia bekerja, karena yg penting mereka menerima bayaran. Dalam pengamatan saya, jumlah agen Mossad yang aktif di Indonesia hanya sekitar 2-3 orang saja, saling bergantian dan hampir selalu berjalan minimal berdua. Pusat komunikasi dan komando tetap berada di Singapura, lagi pula mereka secara mobile bisa bermarkas di mana saja.


Gerakan Mossad di Indonesia secara umum memang ditargetkan untuk memperoleh pengakuan atau pembukaan hubungan diplomatik. Meski Indonesia bukan negara Islam, tetapi pengakuan keberadaan Israel sangatlah penting dan strategis. Keberadaan shadow Embassy Israel di Singapura misalnya bukanlah hal baru. Hal ini telah disampaikan kepada pemerintahan Suharto sejak awal tahun 1990an. Namun hal itu tidak dianggap sebagai ancaman oleh sejumlah petinggi militer. Bahkan hubungan baik sejumlah tokoh Koppasus yang melakukan pembelian unit-unit senjata serbu untuk kepentingan pembentukan Pasukan Elit semakin membuka peluang masuknya pengaruh intelijen Israel ke dalam tubuh negara Indonesia. Pada awal tahun 2000an seiring dengan terpilihan Gus Dur sebagai Presiden, Shadow Embassy Israel sudah sangat siap, dalam waktu singkat siap diaktifkan.

Lebih jauh Cah Bodho mengungkapkan tentang network Mossad yang bekerja di negara Indonesia. Meski tidak terlalu lengkap, namun sejumlah dugaan Cah Bodho patut diacungi jempol.

Mohon maaf, bila sekali lagi saya menulis sebuah tulisan yang dangkal dengan selalu mengambang dalam soal who, what apalagi why. Saya tidak akan menyangkal tuduhan sejumlah pembaca Blog I-I tentang kedangkalan tulisan saya dalam Blog I-I. Tetapi apalah daya saya. Hanya sebuah keprihatinan yang terpaksa saya bungkus dengan kata-kata yang sedikit mengaburkan dan membuat dangkal analisa saya sendiri.

Kembali pada cerita Cah Bodho tentang bagaimana pembinaan Mossad dalam merekrut orang-orang Indonesia lengkap dengan sistem transfer pembayarannya. Saya ingin memberikan warning kepada segenap Instansi Intelijen di Republik Indonesia bahwa infiltrasi Mossad begitu dahsyat ke dalam Republik Indonesia.

Saya tidak sudah tidak begitu paham sejauh mana infiltrasi Mossad ke dalam instansi pemerintah khususnya intelijen, polisi dan militer. Tetapi sepengetahuan saya, hubungan ketiga instansi tersebut dengan Israel via company, agen, ataupun individu asal Israel sangatlah rawan.

Cah Bodho dengan sangat berani menceritakan sedikit tentang operasi Mossad ke dalam masyarakat Indonesia. Entah sudah berapa banyak orang Indonesia yang menjadi penghianat Republik Indonesia. Saya tentunya berkewajiban menjaga identitas Cah Bodho meski saya punya teknologi untuk menelusurinya.

Hahaha...tentu saja Israel/Mossad juga punya teknologi menelusuri Blog I-I dan mencari tahu siapa Senopati Wirang. Saya sudah tidak peduli lagi tentang resiko menulis dalam Blog I-I. Tentunya saya tetap mengutamakan kepentingan nasional dengan tidak gegabah menulis tentang perkembangan terkini dunia keamanan di Indonesia. Mohon maaf kepada para pembaca yang misalnya kecewa dengan tulisan tentang pembunuhan Munir. Tentu saya tidak akan menuliskan kepahlawanan Bung Polycarpus ataupun kepahlawanan Munir dengan gamblang. Meski Editorial The New York Times poisoned justice mengungkapkan tentang racun dalam tubuh peradilan Indonesia, saya melihat bahwa ketiadaan bukti keras (hard evidence) adalah merupakan kesulitan terbesar. Oleh karena itu, SBY tidak usah janji muluk-muluk, karena hal ini akan menjadi senjata untuk menghancurkan kredibilitas pemerintah Indonesia, khususnya di bidang penegakkan hukum dan HAM. Saya pribadi tentu saja lebih baik untuk no comment lebih lanjut tentang apa sesungguhnya yang terjadi.

Kembali pada soal Mossad, kesombongan kalangan intelijen, kepolisian dan militer dalam meremehkan hubungan dengan Israel bisa ditandai dengan masih adanya kontrak-kontrak dengan perusahaan asal Israel. Cah Bodho mungkin paham tentang sepak terjang networking Mossad di masyarakat Indonesia. Mungkin juga tahu tentang bagaimana Mossad menyeret kalangan Islam Indonesia dalam sebuah dunia kelam radikalisme seperti juga pernah terjadi dalam sejarah, yaitu pada masa Khalifah Ali. Andai umat Muslim Indonesia mengerti tentang bahaya infiltrasi Mossad dalam tubuh gerakan keagamaan politik yang senantiasa bernuansa adu domba, maka tidak akan terjadi gerakan-gerakan radikal yang menggunakan kekerasan.

Saya tidak bermaksud mencari kambing hitam gerakan radikal Islam kepada gerakan operasi Mossad. Tetapi bukankah hal ini juga terjadi di Timur Tengah, contoh paling jelas saat ini adalah Lebanon dan masalah palestina. Permusuhan sesama Muslim, permusuhan Islam-Kristen jelas merupakan permainan yang mengasikan bagi Mossad. Perlu diperhatikan bahwa Mossad tidak identik dengan orang-orang Yahudi secara umum. Tetapi Lebih bisa dikaitkan dengan gerakan Zion internasional yang seringkali juga tidak dipahami oleh orang Yahudi biasa. Jadi lebih pada gerakan politik internasional yang didukung oleh unsur-unsur yang lengkap secara politik, ekonomi, intelijen, militer, teknologi, dll. Konon dalam perbincangan ringan, mereka tidak akan pernah diam dan puas melihat perkembangan Indonesia hanya karena mayoritas penduduknya Muslim. Selain pengakuan Israel ada satu lagi upaya, yaitu pengendalian politik dan ekonomi serta penghambatan pembangunan yang berkelanjutan.

Ah....saya mohon maaf atas kedangkalan tulisan saya ini. Tetapi pada akhir tahun 2005 saya pernah mendengar bahwa Mossad tengah mempersiapkan infilitrasi total ke dalam tubuh intelijen, polisi dan militer Indonesia. Namun saya tidak tahu persis teknik infiltrasi yang akan mereka lakukan. Tetapi hal ini tentunya lebih diketahui oleh aparat yang bekerja di dalam dunia intelijen, polisi maupun militer.

Catatan tambahan, Blog I-I telah beberapa kali dikunjungi dari Israel, dan sejumlah negara Timur Tengah. Entah mengapa mereka tertarik melakukan pengamatan terhadap Blog I-I. Hal ini saya dengar juga dialami sejumlah Blogger yang menggunakan kata teroris atau tag teroris dalam tulisan mereka. Hanya sebagai contoh misalnya Blog milik Farit Gauss yang konon juga menjadi sasaran pengamatan dari Israel.

Lebih jauh dan sebagai catatan kecil dari sisi teknologi persandian misalnya, kita tentunya juga mahfum tentang teknologi enskripsi Lemsara (Lemsaneg/LSN) 128 Bit yang ketinggalan jaman mungkin mudah ditembus CIA yang telah menggunakan teknologi 4X lebih tinggi. Mudah-mudahan teknik tradisional juga dipadukan dengan teknologi yang ada, sehingga kecanggihan teknologi asing tidak begitu saja menelanjangi informasi tentang Indonesia.

Kualitas Intelijen Indonesia

Apakah karena nyaris tak terdengar, maka intelijen Indonesia menjadi begitu jeleknya? Apakah karena masih saja terjadi konflik terbuka, maka intelijen Indonesia tidak bekerja maksimal? Apakah karena artikel saya yang sebelumnya tentang rekrutmen intelijen, maka intelijen Indonesia secara keseluruhan berkinerja buruk/negatif?

Tentu dalam menarik logika tidak sesederhana itu. Saya tidak akan membela intelijen bila memang pantas dikritisi, saya juga tidak akan menjatuhkan kredibilitas intelijen Indonesia hanya karena sedikit barang bukti tentang kinerja mereka.


Ketika saya melakukan penelitian terhadap korupsi besar-besaran di tubuh Pertamina, sungguh sedih menyaksikan perusahaan raksasa kebanggaan nasional era 70-80an tersebut tersungkur karena selain mismanagement juga disebabkan oleh mismentalitet sejumlah pengelolanya. Tetapi tidak seluruhnya mengandung mentalitet sampah, dan banyak diantara pengelola Pertamina yang berusaha profesional. Begitu juga dengan penelitian terhadap Garuda Indonesia. Saya kira saudara-saudara yang bekerja untuk dua perusahaan besar tersebut mengerti maksud saya. Sayangnya secara internal seluruh aib perusahaan disimpan bahkan tidak sedikit yang sudah musnah. Sehingga transparansi kepada publik nyaris mustahil.

Apabila dilakukan penelitian mendalam atas Intelijen Indonesia, maka hasilnya kurang lebih akan mirip. Ada bagian-bagian yang rusak namun tidak sedikit bagian-bagian yang bekerja optimal. Oleh karena itulah, kalo dalam perusahaan swasta ada upaya perbaikan melalui reengineering yang bertujuan menghidupkan kembali organisasi. Dalam intelijen Indonesia, upaya-upaya perbaikan secara nyata telah dilakukan dan tentunya hal ini tidak perlu dilaporkan kepada publik. Sesuai dengan kerangka demokrasi, perbaikan kinerja intelijen Indonesia cukup untuk diketahui oleh pemerintah (presiden) selaku user dan DPR selaku mitra pemerintah.

Kepada pembaca Blog I-I yang juga menggunakan nama samaran senopati, saya harap ikut menjaga makna nama senopati dengan bertanggung jawab. Artikel ini saya tuliskan untuk menjawab rasa penasaran para senopati-senopati yang bertanya-tanya tentang kualitas intelijen Indonesia.

  1. Soal rekrutmen. Proses rekrutmen yang ideal telah ada sejak masa Orde Lama, era BPI sampai sekarang. Baik yang ditargetkan kepada mereka yang berlatarbelakang pendidikan SMA maupun Sarjana. Metode rekrutmen sejak masa perkuliahan seorang calon agen juga telah terselenggara secara berkelanjutan tanpa melihat periode waktu melainkan berdasarkan kebutuhan. Disamping itu ada yang mengikuti formasi pembukaan lowongan menjadi PNS intelijen, yang periodenya bisa jadi sama dengan masa penerimaan CPNS instansi pemerintah lain. Kemudian ada juga yang direkrut dari kalangan militer dan polisi dengan melihat latar belakang pendidikan intelijennya atau pengalaman kerjanya. Nah....dari mereka-mereka yang direkrut secara ideal, diperoleh calon-calon agen yang handal dan menjadi motor organisasi. Sementara, apa yang pernah saya tuliskan sebagai rekrutmen yang buruk adalah ekses dari sistem rekomendasi. Apa yang saya khawatirkan adalah bahwa porsi yang ideal semakin sedikit. Dengan penjelasan ini, maka cukup jelas mengapa kadang masyarakat menemui sosok intel yang "payah", tetapi jarang bertemu intelijen yang handal. Tentu saja begitu, karena yang payah tersebut mudah blow-up terbongkar dan yang handal mungkin tidak akan pernah dikenal. Padahal anda mungkin sering berdiskusi dengan agen intel yang handal tersebut tanpa menyadarinya.
  2. Orang-orang Sandi Negara bukanlah intelijen aktif yang biasa melakukan operasi-operasi khusus, mereka adalah sandiman dengan dunia yang penuh rahasia dan kode etik tersendiri. Peranan sandiman sangat penting dalam menjaga keamanan informasi negara dan oleh karena itulah, mereka dilatih secara khusus baik sistem sandi tradisional maupun yang memanfaatkan teknologi. Disana juga diisi orang-orang sipil dan militer yang terlatih dalam soal persandian. Rekrutmen sejak SMA karena memang kebutuhan dan masa pelatihan yang sekarang setara dengan Diploma IV atau bahkan setara S1.
  3. Mengenai orang-orang Indonesia lulusan perguruan tinggi yang direkrut oleh Kedutaan Besar Amerika maupun Kedutaan Besar Asing lainnya, memang benar mereka orang pilihan karena rekrutmen Embassy Asing tentunya tidak main-main. Bahwa kemudian mereka bekerja untuk kepentingan asing saya kira itu usrusan pribadi mereka. Bahkan bila mereka dilatih sedemikian rupa seperti seorang agen intelijen, maka itu juga menjadi tanggung jawab mereka. Tanpa adanya bukti yang bisa diajukan ke meja pengadilan, sulit untuk menuduh mereka sebagai penghianat bangsa. Tetapi saya pernah bertemu dengan pensiunan penghianat negara yang hanya bisa menyesali hari tua karena telah menjadi alat asing. Hal itu disebabkan karena ada beberapa informasi vital yang pernah dia berikan kepada pihak asing yang menyebabkan hancurnya sejumlah sendi kehidupan sosial ekonomi bangsa Indonesia. Tentu kita tidak perlu mengingatkan tentang dosa menyengsarakan rakyat tersebut. Setahu saya, penggunaan teknologi di Kedubes Amerika pun masih biasa saja, kalaupun seseorang dalam Kedutaan mengaku mampu menembus hampir semua instansi pemerintah melalui internet, itu mungkin saja karena memang informasi tersebut terbuka dan bebas diakses siapa saja.
  4. Sistem kerja intelijen asing di Kedutaan Besar ada dua, yaitu yang terbuka sering dikenal sebagai counter part dan yang tertutup atau dikenal spionase. Mereka yang terbuka bahkan saling bekerjasama dan tukar-menukar informasi. Sedangkan mereka yang tertutup melakukan operasi spionase untuk memperoleh informasi rahasia yang vital bagi sebuah negara. Negara-negara komunis dan rejim militer melakukan kontra spionase yang sangat ketat bahkan seperti dalam pemainan sepak bola satu agen asing dijaga ketat minimal satu agen kontra. Pada masa saya masih bertugas, saya bahkan pernah on the spot bersama teman-teman kontra mendata satu per satu agen intel asing sampai ke tempat tinggalnya. Saya kira bila sistem pengawasan intel asing tersebut masih berjalan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
  5. Persoalan dalam menghadapi intel asing sejak zaman dahulu adalah klasik, yaitu ketertinggalan dalam soal teknologi, baik komunikasi maupun trasportasi serta dana operasi. Bayangkan jika anda naik motor mengawasi intel asing yang naik mobil. Atau bayangkan kejadian ketika tiba-tiba sistem komunikasi mati karena pihak lawan sudah memiliki teknologi yang lebih tinggi. Tetapi saat ini, saya yakin ketertinggalan tersebut sudah tidak lagi relevan.
  6. Saat ini di dalam negeri ada tiga organisasi intelijen yang bekerja secara aktif, yaitu BIN (Badan Intelijen Negara), BAIS (Badan Intelijen Strategis), dan BIK (Badan Intelijen Kepolisian). Di masa depan saya meramalkan peranan BIK akan semakin dominan dalam menjaga ketertiban dan ketentraman masyarakat. Hal ini dikarenakan watak Kepolisian yang semakin sipil dan menjadi pengayom masyarakat dan hal ini tentunya perlu ditunjang oleh profesionalisme dan juga didukung oleh dasar hukum yang kuat.

Sistem Informasi Intelejen

Sistem informasi intelijen secara otomatis bertugas mencari dan menganalisis informasi tentang lingkungan sosial, politik, hukum, peraturan perundangan dan ekonomi dari satu atau lebih negara disamping juga tentang kesehatan dan prospek masa depan industri dimana perusahaan bersangkutan merupakan bagian didalamnya serta juga tentang pesaingnya.
Sistem informasi intelijen akan memberikan informasi perencanaan yang para manajer tidak menerima dari sumber lain.
Sumber informasi intelijen :
1.Lembaga pemerintah.
2.Asosiasi perdagangan industri
3.Perusahaan riset pasar swasta
4.Media massa
5.Kajian khusus yang dilakukan organisasi
Informasi yang diperoleh akan digunakan untuk memahami strategi pesaing, pergeseran halus dalam selera konsumen.
Unsur pokok dalam informasi intelijen :
1.Profil keperluan informasi dari manajer
2.Sistem penggalian informasi manajemen
3.Sistem pengkodean dan penyimpanan.
4.Sistem analisis data
5.Kajian khusus
6.Sistem pelaporan
7.Pedoman penghapusan data.

Tentang Intelijen

Apakah definisi Intelijen?

Intelijen dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan langsung dari Intelligence (N) dalam bahasa Inggris yang berarti kemampuan berpikir/analisa manusia. Mudahnya kita lihat saja test IQ (Intelligence Quotient), itulah makna dasar dari Intelijen.

Intelijen atau Intelligence berarti juga seni mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi strategis yang diperlukan sebuah negara tentang negara "musuh". Dari definisi ini berkembang istilah counterintelligence yang merupakan lawan kata dari intelligence.

Intelijen juga merujuk pada organisasi yang melakukan seni pencarian, pengumpulan dan pengolahan informasi tersebut di atas. Dengan definisi ini intelijen juga mencakup orang-orang yang berada di dalam organisasi intelijen termasuk sistem operasi dan analisanya.

USA, Russia (sejak era Uni Soviet) adalah dua negara yang mengembangkan intelligence mengarah pada sebuah field science baru. Keberadaan sejumlah Akademi di Russia, bahkan Sekolah Tinggi sampai Graduate School di USA (bersepesialisasi di bidang intelijen) merupakan langkah-langkah gradual menuju penciptaan field science of intelligence.

Sementara di sebagian besar negara "besar" seperti Inggris, Perancis, dan China, Intelligence masih dianggap sebagai seni yang dirahasiakan dan hanya diajarkan pada calon-calon agen intelijen selama beberapa tahun.

Kegiatan Intelijen Indonesia

Kegiatan intelijen selalu berdasarkan pada kepentingan nasional sebuah entitas politik (negara). Kegiatan intelijen yang bertujuan mengetahui keadaan pihak lawan disebut juga spionase (espionage). Sedangkan kegiatan intelijen untuk mencegah lawan mengetahui keadaan negara kita disebut counterintelligence.

Kegiatan intelijen yang dimanfaatkan kekuatan politik domestik untuk melanggengkan kekuasaan biasanya menjadi suatu bentuk polisi rahasia dan bukan lagi melaksanakan fungsi dasar intelijen. Karena lawan disini sudah dikorupsi menjadi musuh politik dalam negeri.
Salah satu unsur pembusukan organisasi intelijen di Indonesia adalah perubahan fungsi intelijen yang ideal menjadi alat politik presiden.

Hal ini dimungkinkan oleh doktrin single client kepada presiden dan hilangnya fungsi kontrol dari parlemen pada kepeminpinan mantan presiden Suharto.

Meski reformasi sudah berjalan doktrin single client tersebut masih terlalu kuat mempengaruhi kinerja intelijen nasional. Akibatnya operasi intelijen Indonesia masih dipengaruhi oleh kepentingan politik presiden yang tidak menjamin terciptanya obyektifitas analisis dan profesionalisme kerja.

Seharusnya doktrin single client tersebut dibatasi dengan UU Intelijen yang memperjelas fungsi intelijen dan posisi badan-badan intelijen dalam sistem tata negara RI. Artinya, meskipun intelijen tetap menjunjung tinggi loyalitas kepada presiden (demi akurasi dan kecepatan reaksi eksekutif negara), namun tidak lagi bisa dikorupsi untuk kepentingan presiden dan kelompoknya semata.

Dengan demikian, anggota dan prajurit intelijen bisa mempertanggungjawabkan setiap produk analisa berdasarkan hasil operasi intelijen ke hadapan rakyat, bangsa dan tentunya juga nilai-nilai moral dan etika.
Comments: Sepakat dg pikiran Anda. Beberapa masalah mendasar yg mestinya diurai lebih dulu menyangkut ancaman kedaulatan negara. Dalam hal ini kedaulatan tidak harus dimaknai secara fisik dan militeristik. Karena realitanya, Indonesia sudah tidak berdaulat untuk tiga hajat hidup orang banyak: pangan, air & enerji.

220 juta jiwa orang Indonesia sekarang ini hanya semata-mata dipandang sbg captive market oleh negara-negara industri utara plus Jepang, Singapura & new economic tigers, seperti Korsel & Thailand. Sudah sejak 10 tahun terakhir Indonesia menjadi nett importer bahan pangan, baik mentah maupun jadi, yang menyebabkan negeri ini seperti seorang pasien yg hidupnya bergantung kepada selang infus. Maka jika terjadi gejolak harga bahan pangan, seluruh sendi rumah tangga di sekujur negeri akan berguncang juga. Contoh kongkret, tempe dan tahu, yg disebut sbg makanan rakyat. Kedelainya import dari US. Contoh lain, beras, yg suplai dalam negeri terdiri atas lebih dari 40% import. 30% suplai dalam negeri, dan sisanya cadangan berupa hibah, yg mutunya sangat buruk (populer disebut raskin, beras untuk rakyat miskin).

Air sebentar lagi rakyat Indonesia akan jadi konsumen pembayar untuk sumberdaya yg sesungguhnya bisa didapat dg mudah.

Enerji, mulai Nopember nanti kita akan disuguhi pemandangan SPBU2 yg bukan lagi Pertamina, tetapi Shell, Exxon, Petronas, dsb..

Semua ini terjadi karena sejak awalnya negeri ini dirancang (atau dipaksa rancang) menjadi negeri pengutang. Coba buka sejarah awal naiknya Suharto. Tahun 1969, konsultan hukum yg dibayar Freeport McMorran sudah ngalor-ngidul di Jakarta. Maka lahirlah UU no 11/1969 tentang penanaman modal asing. Ia jadi pembuka jalan bagi lahirnya UU lain. Tim konsultan tsb merupakan trade off dari gelontoran dollar AS yg di"hibah"kan IMF dan World Bank untuk "memecahkan" masalah moneter yg dihadapi Indonesia saat peralihan Orla ke Orba.
Bagaimana seorang intelijen mampu mengendalikan segala macam emosi dalam situasi yang sangat genting sekalipun?

Bagaimana seorang intelijen yang mengalami perdebatan bathin antara nurani dan tugas mampu mengambil keputusan yang tepat?

Apakah dua hal di atas bisa tercipta secara tiba-tiba?

Berikut ini sebuah latihan sederhana yang biasa dilakukan intel junior yang baru masuk dalam lingkaran pendidikan intelijen.

1. Setiap intel junior membawa 1 pak korek api yang isinya 1o box.
2. Seluruh batang korek api yang ada di dalam box dibuka dan dihamburkan diatas meja secara acak.
3. Di acak-acak lagi hingga tidak berarturan.
4. Kemudian batang korek yangberantakan itu disusun satu persatu dengan prinsip satu arah. Misalnya kepala batang korek disebelah barat semua.
5. Demikian berulang-ulang sampai kurang lebih dua jam. Biasanya kebosanan sudah mulai terlukis di wajah calon intel karena tidak bisa melihat manfaatnya.

6. Setelah berulang-ulang menyusun batang korek dalam satu arah terjadi proses penyelarasan pikiran, dalam satu tujuan target dan memperteguh motivasi.

7. Sambil melakukan penyusunan batang korek instruktur menjelaskan bahwa kekisruhan dalam diri manusia yang merupakan pertentangan bathin (kesadaran/consciousness) dan pertentangan dalam pikiran adalah hal yg wajar. Yang perlu dilakukan oleh seorang intel adalah mengarahkan kekisruhan itu dalam tujuan ideal yang secara etis bisa diterima oleh prinsip-prinsip individual seorang intel.

8. Contoh paling ekstrim adalah penghilangan nyawa manusia. Secara etika universal hal ini tentu tidak bisa diterima oleh siapapun. Tetatpi ketika telah diargumentasikan dengan maksud dan tujuan penghilangan nyawa tersebut untuk apa, maka diharapkan proses penyelarasan lahir-bathin seorang intel menjadi semakin kuat.

9. Puncaknya adalah terciptanya determinasi dalam diri seorang intel dan penghilangan motif pribadi dalam suatu operasi pembunuhan misalnya. Hal ini jelas akan mengurangi beban rasa bersalah seseorang yang secara etika universal melakukan salah satu kesalahan atau dosa besar.

10. Banyak ahli psikologi menuduh proses latihan ini sebagai bentuk cuci otak untuk menciptakan mesin pembunuh. Sesungguhnya tidak demikian, karena pembunuhan sangatlah jarang dilakukan oleh intelijen baik di masa perang dunia, perang dingin maupun pasca perang dingin. Hal ini menjadi dasar survival seorang intel yang harus bertugas di wilayah lawan (negara lain), dimana dalam operasi bisa disamakan dengan situasi perang, membunuh atau dibunuh. Lebih tepat bila hal ini terkait erat dengan prinsip keselamatan pribadi dan pengamanan pribadi seorang intel yang sedang bertugas.

11. Pembunuhan aktif dalam bentuk operasi lebih banyak dilakukan oleh tim khusus yang biasanya dikenal dengan istilah Black Cell Task Force yang sengaja diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan kotor pemerintah. Pada umumnya mereka yang tergabung dalam Task Force tersebut sudah pernah membunuh dengan menatap langsung mata korbannya, tanpa ada emosi pribadi. Contoh paling jelas dalam sejarah adalah Tim Pembunuh yang dibentuk oleh PM Israel Golda Meir sebagai balasan atas tragedi pembunuhan atlet Israel di Muenchen, Jerman. Tim tersebut tidak melakukan operasi intelijen melainkan melakukan operasi penghilangan nyawa musuh negara. Latihan mereka tentunya jauh dari sekedar menyusun batang korek api. Satu prinsip yang sangat menarik adalah bahwa setiap pembentukan Tim Khusus dimanapun didunia pasti tidak akan memiliki garis hubungan dengan institusi resmi intelijen sebuah negara. Apabila ada yang kemudian mengaitkan dengan Mossad atau Sinbeth dalam kasus Tim Golda Meir, ini hanya karena ada keinginan dari Mossad/Sinbeth agar institusinya disegani di dunia. Itulah sebabnya Tim yang sejenis ini disebut Black Cell.

12. Latihan menyusun batang korek adalah suatu bentuk disiplin diri yg paling kecil dari ratusan teknik intelijen lainnya untuk menciptakan insan intelijen yang handal dan profesional.

The Lockwood Analytical Method for Prediction (LAMP)

The Lockwood Analytical Method for Prediction (LAMP)
An Innovative Methodological Approach to the Problem of Predictive Analysis.

Background of LAMP
The method was developed by Dr. Jonathan Lockwood in 1992 while in DCI Exceptional Intelligence Analyst Program. It is utilized by numerous graduate students in JMIC as core methodology in MSSI theses. It was first published in Defense Intelligence Journal in Fall 1994.

Philosophical Basis of LAMP
The Future Is...
- Not Predetermined.
- The Sum Total of All Interactions of Free Will.
- A Dynamic Spectrum of Constantly Changing Relative Probabilities.

The 12 Steps of LAMP
1. Determine the Predictive Issue.
2. Specify the Actors Bearing on the Problem.
3. Conduct in-depth study of perceptions and intentions of each actor.
4. Specify courses of action for each actor.
5. Determine the major scenarios.
6. Calculate the number of alternate futures.
7. Do pairwise comparison of alternate futures.
8. Rank order the alternate futures.
9. Analyze consequences of alternate futures.
10. Determine focal events for alternate futures.
11. Develop indicators for each focal event.
12. Assess the potential for transposition between alternate futures.

A Step-by-Step Example of a LAMP Analysis:
"Its Application to the Chilean Economic Situation and the Middle East"

Step 1. Determine the Predictive Issue
What are the economic consequences of the Middle East crisis for Chile?
- Trade relations with Chile
- Potential Impact on other Chilean trade partners
- What if war occurs?

Step 2. Specify the Actors Bearing on the Problem
Actors should include most significant trade partners
- Israel
- Egypt
- Syria
- Others? (Iran, Iraq, Saudi Arabia?)

Step 3. Conduct in-depth study of perceptions and intentions of each actor
Analysis should focus on following:
- How does each actor view Chile? (friend, enemy, neutral)
- How significant is the economic relationship between each actor and Chile?
- What historical and contemporary factors may have an influence on their perceptions?
- The primary concern: Avoid ?mirror-imaging? in the analysis

Step 4. Specify courses of action for each actor
Potential Courses of Action for Each Actor:
- Increase Trade with Chile
- Decrease Trade with Chile
- Take No Action on Chilean Trade (Status Quo)

Step 5. Determine the major scenarios
Scenario I : Peaceful Resolution Favoring Israel
Scenario II : Peaceful Resolution Favoring Palestinians
Scenario III : No Resolution (continuing crisis)
Scenario IV : War Breaks Out in Middle East

Step 6. Calculate the number of alternate futures
- Hypothetical example:
- Assume three actors (Israel, Egypt, Syria) as y
- Take two courses of action for each actor as x
- Using xy= z (where z is number of alternate futures)
- We arrive at 23 = 8 alternate futures
- Beware of trying to include too many actors or courses of action in a single problem!

Step 7. Do pairwise comparison of alternate futures

ACTOR ISRAEL EGYPT SYRIA
Alt. Fut. 1 IT IT IT
Alt. Fut. 2 IT DT IT
Alt. Fut. 3 IT DT DT
Alt. Fut. 4 IT IT DT
Alt. Fut. 5 DT IT DT
Alt. Fut. 6 DT DT IT
Alt. Fut. 7 DT IT IT
Alt. Fut. 8 DT DT DT

- For each pair of alternate futures in a scenario, we ask:Based on everything we know up to this moment in time, which one of these futures is more likely to happen?
- Assume that the pair of futures you are voting on are the only ones that exist at the moment
- Each future chosen receives one vote


Step 8. Rank order the alternate futures
ALT. FUTURE NUM. OF VOTES
Alt. Fut. 1
Alt. Fut. 2
Alt. Fut. 3
Alt. Fut. 4
Alt. Fut. 5
Alt. Fut. 6
Alt. Fut. 7
Alt. Fut. 8
Total num. of votes 8 (8-1)/2 = 28 total votes

- Each alternate future will have a certain number of votes, ranked from highest relative probability to least relative probability based on the number of votes received
- This rank order represents a "snapshot in time"
- The rank order of relative probability can change with receipt of new information

Step 9. Analyze consequences of alternate futures
Normally, all futures would be analyzedMost political and military decision-makers will be interested only in three to five most likely futuresAssume that each alternate future actually happens:
- Describe effects on Chilean economy (if any)
- Assess potential long-term effects on other partners
- What are potential consequences in other areas?

Step 10. Determine focal events for alternate futures
For each alternate future, we must ask:
- What events must occur in our present to create this alternate future?
- Focal events are major occurrences that directly affect the relative probability of alternate futures (Example: Israel decides to increase trade with Chile)
- If most likely future has no focal events attached to it, it means that our present is the most likely future

Step 11. Develop indicators for each focal event
- Indicators are a subset of focal events
- Each focal event will have at least one ?indicator? tied to it which tells you that the focal event is about to occur
- Indicators and focal events are part of the ?analytic map? which make up the chain of occurrences within an alternate future

Step 12. Assess the potential for transposition between alternate futures
- Transposition is a highly abstract concept
- When alternate futures share common focal events and indicators, there is the potential for transposition
- If a ?unique? focal event in a less likely alternate future occurs, that single event has the power to change a less likely alternate future into the most likely one
Conclusions
- Policymakers are interested in influencing the future, not simply predicting it
- A good LAMP analysis can illustrate the focal events and indicators associated with the alternate future that the policymaker wants to occur; it is these events and indicators that the policymaker must influence, if he can
-This example shows how LAMP could be used to affect Chilean economic and diplomatic policy

Limitations of LAMP
- Exponential explosion problem with alternate futures.
- Analyst can identify "most likely" future, but cannot assign a quantifiable probability of occurrence for each future.
- Little allowance for ambiguity.

Potential Applications for LAMP
- Indications and Warning.- Estimative Intelligence.
- Common analytical method for intelligence.
- Computer software.
- Training.
- Interface between academic and intelligence communities.
- Tactical intelligence (?).

Conclusions
- LAMP does not grant the gift of prophecy.
- LAMP is not an infallible method.
- LAMP does provide a logical and powerful method for analyzing the future's many possible paths.